Pendidikan Islam untuk segala usia, online dan tatap muka
Mengaji dan Tahsin

Sifatul Huruf: Panduan Lengkap Sifat Berlawanan dan Tak Berlawanan dalam Tajwid

  • Disusun dan ditinjau Tim Kurikulum Arabi
  • Terbit 30 Mei 2026
  • Diperbarui 24 Juni 2026
  • Baca 11 menit

Berpijak pada jaringan 5.000+ pengajar Quran dan bahasa Arab, lulusan kampus pilihan, terlatih Metode Arabi.

Sifatul huruf adalah ciri atau keadaan yang melekat pada huruf hijaiyah saat keluar dari makhrajnya, seperti tertahan atau mengalirnya napas dan suara. Dalam ilmu tajwid, sifat ini terbagi dua kelompok besar, yaitu sifat berlawanan yang selalu berpasangan dan sifat tak berlawanan yang berdiri sendiri tanpa pasangan.

Ilustrasi geometris Islam untuk panduan: Sifatul Huruf: Panduan Lengkap Sifat Berlawanan dan Tak Berlawanan dalam Tajwid

Apa Itu Sifatul Huruf dalam Ilmu Tajwid

Sifatul huruf adalah keadaan atau ciri yang muncul pada sebuah huruf hijaiyah ketika ia diucapkan dari tempat keluarnya (makhraj). Bila makhraj menjawab pertanyaan di mana huruf ini keluar, maka sifat menjawab pertanyaan bagaimana huruf ini terdengar saat keluar. Dua huruf bisa keluar dari makhraj yang berdekatan, seperti tha (ط) dan ta (ت), tetapi terdengar berbeda karena perbedaan sifatnya. Karena itu, sifatul huruf menjadi pelengkap yang menyempurnakan ilmu makhraj.

Para ulama tajwid menjelaskan bahwa sifat memiliki tiga manfaat utama. Pertama, membedakan huruf-huruf yang makhrajnya sama atau berdekatan sehingga setiap huruf terucap dengan jati dirinya. Kedua, memperindah pengucapan huruf yang kuat dan menjaga kehalusan huruf yang lemah. Ketiga, membantu pembaca menjaga setiap huruf agar tetap utuh dan tidak berubah menjadi huruf lain. Pemahaman sifatul huruf inilah yang membuat bacaan Al-Quran terdengar jelas, tertib, dan terjaga keasliannya.

Dalam pembagiannya, ulama qiraat menyusun sifatul huruf ke dalam dua kelompok besar. Kelompok pertama adalah sifat yang berlawanan (mutadhaddah), yaitu sifat yang memiliki pasangan saling bertolak belakang, sehingga setiap huruf pasti memiliki salah satu dari pasangan itu. Kelompok kedua adalah sifat yang tidak berlawanan (ghair mutadhaddah), yaitu sifat yang berdiri sendiri tanpa pasangan, yang hanya dimiliki sebagian huruf tertentu. Pembagian inilah yang menjadi inti pembahasan sifatul huruf.

Sifat Berlawanan dalam Sifatul Huruf: Hams dan Jahr

Pasangan pertama dari sifat berlawanan adalah hams dan jahr, yang berkaitan dengan keadaan napas. Hams secara bahasa berarti samar atau tersembunyi, dan secara istilah berarti mengalirnya napas saat mengucapkan huruf karena lemahnya tekanan pada makhraj. Hurufnya berjumlah sepuluh, terkumpul dalam ungkapan masyhur para ulama: fa-hatstsahu syakhshun sakat (ف ح ث ه ش خ ص س ك ت). Anda dapat menguji huruf hams dengan meletakkan telapak tangan di depan mulut; saat mengucap ta (ت) atau sin (س) akan terasa aliran napas yang jelas.

Mekanisme hams dapat Anda pahami dari kerja makhraj yang longgar. Ketika dua organ pengucap, misalnya ujung lidah dengan pangkal gigi seri, bertemu dengan tekanan yang ringan, ruang sempit yang terbentuk membiarkan napas terus mengalir keluar bersama bunyi huruf. Itulah sebabnya huruf hams disebut huruf yang lemah dari sisi sandaran pada makhraj. Coba ucapkan sin (س) memanjang, lalu fa (ف), lalu ha (ه); Anda akan mendengar desir napas yang menemani bunyi dari awal hingga akhir. Pada lafaz seperti مَسَّ dan فِيهِ, aliran napas inilah yang menjaga huruf hams tetap terdengar lembut dan jernih.

Lawan dari hams adalah jahr, yang secara bahasa berarti jelas atau nyaring, dan secara istilah berarti tertahannya napas saat mengucapkan huruf karena kuatnya tekanan pada makhraj. Huruf jahr adalah seluruh huruf hijaiyah selain sepuluh huruf hams, sehingga jumlahnya delapan belas huruf. Pada huruf jahr seperti dal (د), ba (ب), dan 'ain (ع), napas tertahan dan suara terdengar tegas. Contoh nyata terlihat pada lafaz عَبْدٌ yang menggabungkan huruf-huruf jahr dengan suara yang penuh.

Anda dapat merasakan kerja jahr dengan latihan pembandingan sederhana. Ucapkan ta (ت) yang termasuk hams, lalu ucapkan pasangan makhrajnya dal (د) yang termasuk jahr; keduanya keluar dari tempat yang sama, namun pada dal napas seakan terkunci di belakang lidah dan yang mengalir hanyalah suara. Begitu pula bila Anda membandingkan kaf (ك) yang hams dengan qaf (ق) yang jahr. Latihan berpasangan ini mengasah telinga untuk membedakan napas yang mengalir dan napas yang tertahan. Pada lafaz جَعَلَ dan الْعَالَمِينَ, kepenuhan suara huruf jahr terdengar jelas karena napas ditahan dengan baik di makhrajnya.

Memahami perbedaan hams dan jahr membantu Anda menjaga ketepatan huruf. Kesalahan yang sering terjadi adalah menambahkan aliran napas pada huruf jahr sehingga ba (ب) terdengar berdesis, atau menahan napas pada huruf hams sehingga sin (س) kehilangan ciri khasnya. Contoh halus lain adalah huruf hamzah (ء) yang sangat kuat dari sisi jahr; bila pembaca melonggarkannya, ia bisa berubah samar menyerupai ha. Latihan yang sadar terhadap aliran dan tahanan napas akan menumbuhkan bacaan yang bersih dan sesuai kaidah, sekaligus menjaga panjang napas Anda saat membaca ayat yang panjang.

Sifat Berlawanan: Syiddah, Tawassuth, dan Rakhawah

Pasangan kedua berkaitan dengan keadaan suara, dan unik karena memiliki tingkat tengah. Syiddah secara bahasa berarti kuat, dan secara istilah berarti tertahannya suara secara sempurna saat mengucapkan huruf karena kuatnya bersandar pada makhraj. Hurufnya berjumlah delapan, terkumpul dalam ungkapan ajidu qathin bakat (أ ج د ق ط ب ك ت). Saat mengucap huruf syiddah seperti tha (ط) atau qaf (ق), suara berhenti seketika dan tidak dapat dipanjangkan.

Lawan dari syiddah adalah rakhawah, yang secara bahasa berarti lunak, dan secara istilah berarti mengalirnya suara saat mengucapkan huruf karena lemahnya sandaran pada makhraj. Huruf rakhawah adalah seluruh huruf selain huruf syiddah dan huruf tawassuth. Pada huruf rakhawah seperti syin (ش), tsa (ث), dan kha (خ), suara dapat mengalir dan dipanjangkan, misalnya saat Anda mengucap الشَّمْس dengan menahan aliran suara syin.

Di antara keduanya terdapat tawassuth, yang berarti pertengahan, yaitu keadaan suara yang tidak tertahan sempurna dan tidak mengalir sempurna. Hurufnya berjumlah lima, terkumpul dalam ungkapan lin 'umar (ل ن ع م ر). Pada huruf tawassuth, suara tertahan sebagian lalu mengalir sebagian, sehingga terdengar seimbang. Tiga tingkatan ini, yaitu syiddah, tawassuth, dan rakhawah, menjelaskan mengapa sebagian huruf terdengar berhenti tegas sementara sebagian lain terdengar mengalir lembut.

Sifat Berlawanan: Isti'la, Istifal, Ithbaq, dan Infitah

Pasangan ketiga berkaitan dengan posisi lidah, dan sangat berhubungan dengan tebal tipisnya bunyi huruf. Isti'la secara bahasa berarti naik atau terangkat, dan secara istilah berarti terangkatnya pangkal lidah ke arah langit-langit mulut saat mengucapkan huruf, sehingga suara menjadi tebal (tafkhim). Huruf isti'la berjumlah tujuh, terkumpul dalam ungkapan khushsha dhaghthin qizh (خ ص ض غ ط ق ظ). Huruf-huruf inilah yang selalu dibaca tebal, seperti pada lafaz الطَّامَّة dan الصَّاخَّة.

Hubungan isti'la dengan tafkhim perlu Anda pahami secara berjenjang. Ketujuh huruf isti'la sama-sama dibaca tebal, namun para ulama menyusun tingkatan ketebalannya menurut harakat yang menyertainya. Tingkat paling tebal terjadi saat huruf isti'la berharakat fathah yang diikuti alif, seperti pada قَالَ. Berikutnya fathah tanpa alif, lalu dhammah, lalu sukun, dan paling ringan saat berharakat kasrah, seperti pada قِيلَ. Tingkatan ini menjelaskan mengapa qaf pada قُلْ terdengar lebih ringan daripada qaf pada قَامَ, walaupun keduanya tetap tebal. Memahami jenjang ini menjaga bacaan Anda dari ketebalan yang kaku dan seragam.

Lawan dari isti'la adalah istifal, yang secara bahasa berarti turun atau merendah, dan secara istilah berarti turunnya pangkal lidah ke dasar mulut saat mengucapkan huruf, sehingga suara menjadi tipis (tarqiq). Huruf istifal adalah seluruh huruf selain tujuh huruf isti'la. Sebagian besar huruf hijaiyah termasuk istifal dan dibaca tipis, kecuali pada keadaan khusus seperti huruf ra dan lam pada lafzhul jalalah yang memiliki kaidah tersendiri. Huruf ra dibaca tebal saat berharakat fathah atau dhammah, dan dibaca tipis saat berharakat kasrah, seperti perbedaan رَبّ dengan رِزْق. Adapun lam pada lafzhul jalalah dibaca tebal setelah harakat fathah atau dhammah, seperti pada نَصْرُ اللَّهِ, dan dibaca tipis setelah kasrah, seperti pada بِسْمِ اللَّهِ.

Perlu Anda perhatikan, di antara huruf isti'la ada empat yang juga memiliki sifat ithbaq, yaitu shad (ص), dhad (ض), tha (ط), dan zha (ظ). Ithbaq berarti menempelnya lidah ke langit-langit sehingga ketebalan suara mencapai tingkat tertinggi. Lawannya adalah infitah, yaitu terbukanya ruang antara lidah dan langit-langit, yang dimiliki seluruh huruf selain empat huruf ithbaq. Pasangan ithbaq dan infitah ini juga termasuk sifat berlawanan dalam sifatul huruf.

Hubungan antara isti'la dan ithbaq dapat Anda bayangkan sebagai dua lapis penguat ketebalan. Isti'la menaikkan pangkal lidah, sedangkan ithbaq menambahkan lengkungan permukaan lidah yang mengatup ke langit-langit, sehingga suara terkurung dan terdengar paling berat. Karena itu, keempat huruf ithbaq adalah huruf yang paling tebal di antara semua huruf isti'la. Contoh perbandingan yang jelas adalah shad (ص) yang ithbaq dengan sin (س) yang istifal pada kata صِرَاط dan سِرَاج. Lidah pada shad mengatup penuh, sedangkan pada sin tetap datar dan rendah, sehingga keduanya terdengar tegas berbeda walau makhrajnya berdekatan.

Sifat Berlawanan: Idzlaq dan Ishmat

Pasangan terakhir dari sifat berlawanan adalah idzlaq dan ishmat, yang berkaitan dengan ringan atau beratnya pengucapan. Idzlaq secara bahasa berarti ujung atau kefasihan, dan secara istilah berarti ringan dan cepatnya huruf saat diucapkan karena keluar dari ujung lidah atau tepi bibir. Hurufnya berjumlah enam, terkumpul dalam ungkapan firra min lubb (ف ر م ن ل ب). Huruf-huruf ini terucap mudah dan mengalir, sehingga sering muncul dalam kosakata Arab yang asli.

Lawan dari idzlaq adalah ishmat, yang secara bahasa berarti menahan atau diam, dan secara istilah berarti beratnya huruf saat diucapkan sehingga terasa lebih lambat. Huruf ishmat adalah seluruh huruf selain enam huruf idzlaq, sehingga berjumlah dua puluh dua huruf. Para ulama bahasa menyebut bahwa kata Arab asli yang terdiri dari empat atau lima huruf umumnya mengandung salah satu huruf idzlaq, karena ringannya huruf ini memudahkan lisan.

Dengan demikian, lima pasangan sifat berlawanan telah lengkap: hams dan jahr, syiddah dan rakhawah dengan tawassuth di tengahnya, isti'la dan istifal, ithbaq dan infitah, serta idzlaq dan ishmat. Setiap huruf hijaiyah pasti memiliki satu dari setiap pasangan ini. Karena itu, setiap huruf memiliki sekumpulan sifat berlawanan yang menjadi identitas dasarnya dalam sifatul huruf.

Sifat Tak Berlawanan dan Manfaatnya bagi Bacaan

Kelompok kedua dalam sifatul huruf adalah sifat tak berlawanan (ghair mutadhaddah), yaitu sifat yang berdiri sendiri tanpa pasangan dan hanya dimiliki sebagian huruf tertentu. Sifat ini menjadi penghias tambahan yang memperjelas karakter sebuah huruf. Jumlah sifat tak berlawanan yang masyhur ada tujuh, walau sebagian ulama menambahkan beberapa sifat lain seperti khafa dan ghunnah dalam pembahasan yang lebih luas.

Sifat tak berlawanan yang utama meliputi shafir, qalqalah, lin, inhiraf, takrir, tafasysyi, dan istithalah. Shafir adalah suara tajam menyerupai siulan yang muncul pada tiga huruf, yaitu shad (ص), sin (س), dan zai (ز). Qalqalah adalah pantulan suara yang terjadi pada huruf yang disukun, terkumpul dalam ungkapan quthbu jad (ق ط ب ج د), seperti pada lafaz أَحَدْ di akhir surah Al-Ikhlash. Lin adalah keluarnya huruf wau dan ya secara lunak saat keduanya sukun setelah harakat fathah, seperti pada lafaz خَوْف dan بَيْت.

Tiga huruf shafir memiliki nuansa siulan yang berbeda, dan Anda dapat melatih telinga untuk mengenalinya. Sin (س) menghasilkan siulan yang halus dan tipis, shad (ص) menghasilkan siulan yang sama namun lebih tebal karena lidah mengatup ithbaq, sedangkan zai (ز) menghasilkan siulan yang bergetar nyaring karena ia huruf jahr. Bandingkan bunyi سَلَام, صِرَاط, dan زَيْتُون; ketiganya bersiul, tetapi dengan warna yang berlainan. Adapun qalqalah memiliki tingkatan menurut letak huruf. Qalqalah paling kuat terjadi saat huruf sukun berada di akhir kata dan diwaqafkan, seperti pada الْفَلَقْ; qalqalah pertengahan saat sukun di tengah kata, seperti pada يَطْمَعُونَ; dan qalqalah lebih ringan saat sukun asli di tengah, seperti pada lafaz أَبْنَاء. Pantulannya tetap satu kali, ringan, dan tanpa bunyi vokal.

Sifat tak berlawanan lainnya menambah ketelitian bacaan. Inhiraf adalah condongnya suara, dimiliki lam (ل) dan ra (ر). Takrir adalah bergetarnya ujung lidah yang dimiliki ra (ر), dengan catatan getaran ini ditahan agar tidak berlebihan. Tafasysyi adalah menyebarnya napas di dalam mulut yang khas pada syin (ش). Istithalah adalah memanjangnya suara di salah satu tepi lidah yang khas pada dhad (ض). Memahami sifat-sifat ini membuat Anda mampu mengucap setiap huruf dengan ciri uniknya sehingga bacaan Al-Quran menjadi terang dan terjaga.

Mengapa Sifatul Huruf Penting dalam Membaca Al-Quran

Sifatul huruf adalah kunci agar bacaan Al-Quran tepat dan bermakna. Salah dalam menerapkan sifat dapat mengubah huruf, dan perubahan huruf dapat mengubah makna ayat. Misalnya, bila huruf shad (ص) yang tebal diucapkan menjadi sin (س) yang tipis, maka kata صِرَاط yang berarti jalan dapat berubah maknanya. Karena itu, menjaga sifat termasuk bagian dari menjaga keaslian kalam Allah.

Allah memerintahkan agar Al-Quran dibaca dengan tartil, yaitu membaca dengan tertib, perlahan, dan memenuhi hak setiap huruf. Memenuhi hak huruf mencakup mengeluarkannya dari makhraj yang benar dan menampilkan sifat yang melekat padanya. Maka mempelajari sifatul huruf merupakan jalan nyata untuk mewujudkan perintah membaca dengan tartil.

Dalam Metode Arabi, sifatul huruf diajarkan secara bertahap dan terstruktur. Santri mengenal makhraj terlebih dahulu, lalu mempelajari sifat berlawanan satu per satu, kemudian sifat tak berlawanan yang menjadi penghias. Pendekatan ini menjaga agar tajwid yang benar tertanam melekat, sehingga anak membaca Al-Quran dengan jelas, tartil, dan terjaga keindahannya sejak dini.

وَرَتِّلِ الْقُرْآنَ تَرْتِيلًا

wa rattilil-qur'aana tartiilaa

Dan bacalah Al-Quran itu dengan perlahan-lahan (tartil).
QS Al-Muzzammil: 4

Kesalahan Umum dalam Menerapkan Sifatul Huruf

Kesalahan pertama yang sering muncul adalah menebalkan huruf istifal yang seharusnya tipis. Misalnya, sebagian pembaca menebalkan huruf lam dan ra di setiap keadaan, padahal keduanya memiliki kaidah tebal tipis tersendiri. Cara memperbaikinya adalah menyadari bahwa hanya tujuh huruf isti'la yang selalu tebal, sementara huruf istifal pada umumnya dibaca tipis. Latihan membandingkan kata berhuruf shad dengan kata berhuruf sin membantu telinga mengenali perbedaannya.

Kesalahan kedua adalah mengabaikan qalqalah atau melebih-lebihkannya. Sebagian pembaca tidak memantulkan huruf qalqalah saat sukun sehingga huruf qaf atau dal terdengar mati, sebagian lain memantulkannya terlalu kuat sehingga menyerupai harakat. Cara memperbaikinya adalah memberi pantulan ringan dan jelas pada huruf qalqalah saat sukun, seperti pada lafaz يَدْخُلُونَ, tanpa menambahkan bunyi vokal apa pun.

Kesalahan ketiga adalah berlebihan pada sifat takrir huruf ra sehingga lidah bergetar berulang-ulang seperti suara mesin. Sifat takrir memang ada pada ra, dan para ulama justru mengajarkan agar getaran itu disembunyikan dan ditahan, cukup satu sentuhan ujung lidah. Kesalahan keempat adalah menghilangkan aliran napas pada huruf hams seperti ha (ه) dan fa (ف) sehingga keduanya terdengar tertekan. Menjaga aliran napas yang wajar mengembalikan ciri asli huruf hams.

Glosarium Istilah Sifatul Huruf

Hams berarti mengalirnya napas saat huruf diucapkan, sedangkan jahr berarti tertahannya napas. Syiddah berarti tertahannya suara secara sempurna, rakhawah berarti mengalirnya suara, dan tawassuth berarti keadaan tengah antara keduanya. Isti'la berarti terangkatnya pangkal lidah sehingga huruf menjadi tebal, sedangkan istifal berarti turunnya pangkal lidah sehingga huruf menjadi tipis.

Ithbaq berarti menempelnya lidah ke langit-langit sehingga ketebalan mencapai puncaknya, sedangkan infitah berarti terbukanya ruang antara keduanya. Idzlaq berarti ringan dan cepatnya pengucapan huruf, sedangkan ishmat berarti beratnya pengucapan. Tafkhim berarti menebalkan bunyi huruf, dan tarqiq berarti menipiskannya.

Pada sifat tak berlawanan, shafir berarti suara tajam menyerupai siulan, qalqalah berarti pantulan suara pada huruf sukun, dan lin berarti keluarnya wau dan ya secara lunak. Inhiraf berarti condongnya suara, takrir berarti bergetarnya ujung lidah, tafasysyi berarti menyebarnya napas di mulut, dan istithalah berarti memanjangnya suara di tepi lidah. Makhraj sendiri berarti tempat keluarnya huruf, yang menjadi pasangan tak terpisahkan dari sifatul huruf.

FAQ

Pertanyaan yang Sering Diajukan

Apa itu sifatul huruf dalam ilmu tajwid?
Sifatul huruf adalah ciri atau keadaan yang melekat pada huruf hijaiyah ketika keluar dari makhrajnya, misalnya mengalir atau tertahannya napas dan suara. Sifat ini membedakan huruf yang makhrajnya berdekatan, memperjelas pengucapan, dan menjaga setiap huruf agar tetap utuh saat membaca Al-Quran.
Berapa jumlah sifat berlawanan dan tak berlawanan?
Sifat berlawanan terdiri dari lima pasangan, yaitu hams dan jahr, syiddah dan rakhawah dengan tawassuth di tengah, isti'la dan istifal, ithbaq dan infitah, serta idzlaq dan ishmat. Sifat tak berlawanan yang masyhur berjumlah tujuh, yaitu shafir, qalqalah, lin, inhiraf, takrir, tafasysyi, dan istithalah.
Apa perbedaan sifat berlawanan dan tak berlawanan?
Sifat berlawanan adalah sifat yang memiliki pasangan saling bertolak belakang, sehingga setiap huruf pasti memiliki salah satu dari setiap pasangannya. Sifat tak berlawanan adalah sifat yang berdiri sendiri tanpa pasangan dan hanya dimiliki sebagian huruf tertentu, sehingga berfungsi sebagai penghias tambahan.
Apa contoh penerapan sifatul huruf yang mengubah makna?
Huruf shad (ص) memiliki sifat isti'la dan ithbaq sehingga dibaca tebal, sedangkan sin (س) dibaca tipis. Bila shad pada kata صِرَاط diucapkan menjadi sin, makna kata dapat berubah. Karena itu menjaga sifat huruf termasuk menjaga keaslian makna ayat Al-Quran.
Apakah sifatul huruf perlu dipelajari sebelum lancar membaca?
Sifatul huruf sangat dianjurkan dipelajari sejak tahap tahsin agar bacaan benar sejak awal. Pengenalannya dilakukan bertahap, dimulai dari makhraj, lalu sifat berlawanan, kemudian sifat tak berlawanan. Pembelajaran terstruktur ini menjaga agar tajwid tertanam melekat dan mengurangi kesalahan yang sulit diperbaiki kemudian.
Apa hubungan sifatul huruf dengan makharijul huruf?
Makharijul huruf menjelaskan tempat keluarnya huruf, sedangkan sifatul huruf menjelaskan keadaan huruf saat keluar dari tempat itu. Keduanya saling melengkapi: makhraj menentukan asal bunyi, dan sifat menentukan kualitas bunyi, sehingga huruf yang makhrajnya berdekatan tetap dapat dibedakan dengan jelas.
Mengapa huruf qalqalah dipantulkan saat sukun?
Huruf qalqalah, yaitu qaf, tha, ba, jim, dan dal, memiliki sifat syiddah dan jahr sekaligus sehingga suara tertahan kuat. Saat huruf ini disukun, suara perlu dipantulkan ringan agar terdengar jelas, seperti pada lafaz أَحَدْ. Pantulan ini diberikan tanpa menambahkan bunyi vokal apa pun.

Sumber dan rujukan

  • Al-Muqaddimah al-Jazariyyah fi 'Ilm at-Tajwid — Imam Muhammad bin al-Jazari
  • Hidayatul Qari ila Tajwid Kalam al-Bari — Abdul Fattah as-Sayyid al-Marshafi
  • Ghayat al-Murid fi 'Ilm at-Tajwid — Atiyyah Qabil Nashr
  • Nihayat al-Qaul al-Mufid fi 'Ilm at-Tajwid — Muhammad Makki Nashr al-Juraisi
Mulai Hari Ini

Siap Mulai Belajar Bersama Arabi?

Pengajar ahli siap mendampingi Anda, satu per satu, online maupun tatap muka. Konsultasi gratis, tanpa syarat.

Daftar