Jumlah Ismiyah dan Fi’liyah: Unsur, Tanda, dan Contohnya
Berpijak pada jaringan 5.000+ pengajar Quran dan bahasa Arab, lulusan kampus pilihan, terlatih Metode Arabi.
Jumlah ismiyah dan fi’liyah adalah dua jenis kalimat sempurna dalam bahasa Arab. Jumlah ismiyah adalah kalimat yang diawali isim, tersusun dari mubtada dan khabar. Jumlah fi’liyah adalah kalimat yang diawali fi’il, tersusun dari fi’il dan fa’il, terkadang disertai maf’ul bih sebagai objek.
Apa itu jumlah ismiyah dan fi’liyah dalam bahasa Arab
Dalam ilmu nahwu, susunan kata yang memberi makna sempurna disebut jumlah atau kalam. Para ulama nahwu membagi jumlah yang sempurna menjadi dua jenis pokok: jumlah ismiyah dan jumlah fi’liyah. Pembagian ini berpijak pada kata pertama yang membuka kalimat. Bila kalimat dibuka dengan isim atau kata benda, ia disebut jumlah ismiyah. Bila kalimat dibuka dengan fi’il atau kata kerja, ia disebut jumlah fi’liyah. Memahami jumlah ismiyah dan fi’liyah adalah pintu utama membaca Al-Quran dan teks Arab dengan menangkap makna yang utuh.
Jumlah ismiyah adalah kalimat yang tersusun dari dua bagian pokok, yaitu mubtada dan khabar. Mubtada adalah isim yang menjadi pokok pembicaraan dan umumnya terletak di awal kalimat, sedangkan khabar adalah keterangan yang melengkapi makna mubtada. Contohnya اللَّهُ غَفُورٌ (Allah Maha Pengampun), di mana اللَّهُ berkedudukan sebagai mubtada dan غَفُورٌ sebagai khabar. Tanpa khabar, mubtada belum membentuk makna yang sempurna dan Anda hanya memiliki satu kata yang menggantung.
Jumlah fi’liyah adalah kalimat yang tersusun dari fi’il dan fa’il, yaitu kata kerja dan pelakunya, dan terkadang disertai maf’ul bih atau objek bila kata kerjanya membutuhkan objek. Contohnya كَتَبَ الطَّالِبُ الدَّرْسَ (siswa itu menulis pelajaran), di mana كَتَبَ adalah fi’il, الطَّالِبُ adalah fa’il, dan الدَّرْسَ adalah maf’ul bih. Struktur ini menunjukkan suatu perbuatan beserta siapa yang melakukannya dan apa yang dikenai perbuatan.
Dalam Metode Arabi, pengenalan jumlah ismiyah dan fi’liyah ditanam setelah santri menguasai pembagian kata menjadi isim, fi’il, dan harf. Inilah tahap di mana santri mulai membedah ayat secara utuh: menentukan jenis kalimat, lalu memetakan unsur-unsurnya satu per satu. Dengan dasar ini, Anda membaca Al-Quran dengan kesadaran penuh atas peran tiap kata dan hubungan antarkata, lalu naik bertahap ke pembahasan i’rab yang lebih dalam.
Definisi dan unsur jumlah ismiyah
Jumlah ismiyah adalah kalimat yang diawali oleh isim. Para ulama nahwu mendefinisikannya sebagai kalimat yang tersusun dari mubtada dan khabar. Mubtada adalah isim yang berkedudukan marfu’ atau berharakat akhir dhammah, terletak di awal kalimat, dan menjadi pokok yang hendak diberitakan. Khabar adalah bagian yang menyempurnakan makna mubtada, juga berkedudukan marfu’ pada keadaan dasarnya. Keduanya saling membutuhkan untuk membentuk satu makna yang utuh.
Mubtada umumnya berupa isim ma’rifah atau kata yang sudah tertentu, seperti nama diri, isim yang diberi alif lam, atau kata ganti. Contohnya المُسْلِمُ صَادِقٌ (seorang muslim itu jujur). Adapun khabar bisa berupa satu kata seperti pada contoh tersebut, dan disebut khabar mufrad. Khabar juga bisa berupa jar majrur seperti المَالُ فِي البَيْتِ (harta itu di rumah), berupa zharaf atau keterangan tempat dan waktu, atau bahkan berupa jumlah yang lengkap.
Kesesuaian antara mubtada dan khabar wajib Anda jaga. Bila mubtada berbentuk mufrad atau tunggal, khabar juga mufrad. Bila mubtada muannats atau perempuan, khabar mengikuti bentuk muannats. Contoh kesesuaian ini tampak pada الطَّالِبَةُ مُجْتَهِدَةٌ (siswi itu rajin), di mana mubtada dan khabar sama-sama berbentuk muannats. Kesesuaian dalam jenis dan jumlah inilah yang menjaga kalimat tetap benar secara gramatika.
Perlu Anda ketahui, urutan mubtada dan khabar adakalanya berbalik. Pada keadaan tertentu khabar boleh didahulukan dari mubtada, terutama bila khabar berupa jar majrur atau zharaf dan mubtada berupa isim nakirah. Contohnya فِي الدَّارِ رَجُلٌ (di dalam rumah ada seorang laki-laki), di mana khabar فِي الدَّارِ didahulukan sebelum mubtada رَجُلٌ. Memahami keluwesan urutan ini menjaga Anda dari kekeliruan saat menemui susunan kalimat yang tidak biasa.
اللَّهُ نُورُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ
Allahu nurus-samawati wal-ard
Allah adalah cahaya langit dan bumi.
Definisi dan unsur jumlah fi’liyah
Jumlah fi’liyah adalah kalimat yang diawali oleh fi’il atau kata kerja. Unsur pokoknya ada dua, yaitu fi’il dan fa’il. Fi’il adalah kata kerja yang menunjukkan perbuatan disertai waktu, sedangkan fa’il adalah pelaku yang melakukan perbuatan tersebut. Fa’il selalu berkedudukan marfu’ atau berharakat akhir dhammah pada keadaan dasarnya. Contohnya جَاءَ الحَقُّ (telah datang kebenaran), di mana جَاءَ adalah fi’il dan الحَقُّ adalah fa’il.
Bila fi’il dalam kalimat berupa fi’il muta’addi atau kata kerja yang membutuhkan objek, maka jumlah fi’liyah dilengkapi dengan maf’ul bih. Maf’ul bih adalah isim yang menjadi sasaran perbuatan dan berkedudukan manshub atau berharakat akhir fathah. Contohnya نَصَرَ اللَّهُ المُؤْمِنِينَ (Allah menolong orang-orang beriman), di mana نَصَرَ adalah fi’il, اللَّهُ adalah fa’il yang marfu’, dan المُؤْمِنِينَ adalah maf’ul bih yang manshub.
Salah satu kaidah penting dalam jumlah fi’liyah adalah hubungan fi’il dengan fa’il dari segi jenis. Bila fa’il berupa isim muannats yang nyata, fi’il madhi sebelumnya umumnya ditambah ta ta’nits sakinah, seperti قَالَتِ امْرَأَةٌ (seorang perempuan berkata). Adapun dari segi jumlah, fi’il yang mendahului fa’il tetap berbentuk mufrad atau tunggal meski fa’ilnya berbentuk dua atau jamak, sehingga Anda mengucapkan جَاءَ الرِّجَالُ (para laki-laki datang) dengan fi’il tetap tunggal.
Urutan dasar jumlah fi’liyah adalah fi’il terlebih dahulu, lalu fa’il, kemudian maf’ul bih. Susunan inilah yang paling banyak Anda jumpai dalam Al-Quran. Pada keadaan tertentu, maf’ul bih boleh didahulukan dari fa’il, atau bahkan dari fi’il, demi tujuan penekanan atau pembatasan makna. Contoh masyhur adalah إِيَّاكَ نَعْبُدُ (hanya kepada-Mu kami menyembah), di mana maf’ul bih إِيَّاكَ didahulukan untuk menegaskan makna pengkhususan ibadah hanya kepada Allah.
وَقُلْ جَاءَ الْحَقُّ وَزَهَقَ الْبَاطِلُ
Wa qul ja'al-haqqu wa zahaqal-batil
Dan katakanlah, telah datang kebenaran dan telah lenyap kebatilan.
Mengenal unsur pelengkap dalam jumlah fi’liyah
Selain fi’il, fa’il, dan maf’ul bih, jumlah fi’liyah dapat dilengkapi unsur lain yang memperkaya maknanya. Salah satunya adalah na’ibul fa’il atau pengganti pelaku. Na’ibul fa’il muncul ketika fi’il diubah menjadi bentuk pasif atau fi’il majhul, sehingga pelaku asli tidak disebut dan objek naik menggantikan kedudukannya menjadi marfu’. Contohnya خُلِقَ الإِنْسَانُ (manusia diciptakan), di mana الإِنْسَانُ menjadi na’ibul fa’il setelah pelaku tidak disebut.
Unsur pelengkap berikutnya adalah maf’ul lain selain maf’ul bih. Ada maf’ul muthlaq yang menguatkan makna fi’il dengan menyebut bentuk mashdarnya, seperti كَلَّمَ اللَّهُ مُوسَى تَكْلِيمًا (Allah berbicara kepada Musa dengan sebenar-benar berbicara). Ada maf’ul li ajlih yang menerangkan sebab perbuatan, dan ada maf’ul fih yang menerangkan tempat atau waktu perbuatan. Unsur-unsur ini memperdalam makna kalimat sambil menjaga inti susunannya tetap utuh.
Ada pula unsur hal yang menerangkan keadaan pelaku atau objek saat perbuatan berlangsung, seperti جَاءَ الطَّالِبُ مُسْرِعًا (siswa itu datang dengan bergegas). Ada tamyiz yang menjelaskan kesamaran makna, dan ada keterangan tambahan berupa jar majrur. Semua unsur ini berkedudukan sebagai pelengkap yang melingkupi inti fi’il dan fa’il, sehingga satu jumlah fi’liyah dapat tumbuh panjang dengan makna yang semakin rinci dan kaya.
Memahami unsur-unsur pelengkap ini penting agar Anda tidak salah memetakan kedudukan kata saat membaca ayat yang panjang. Inti jumlah fi’liyah tetap pada fi’il dan fa’il, sedangkan unsur lain berperan sebagai pelengkap yang melayani inti tersebut. Dengan menempatkan tiap kata pada kedudukannya yang tepat, Anda menangkap maksud ayat secara utuh, lalu memahami pesan Al-Quran dengan lebih dekat dan mendalam.
Cara membedakan jumlah ismiyah dan fi’liyah
Cara paling sederhana membedakan jumlah ismiyah dan fi’liyah adalah dengan melihat kata pertama yang membuka kalimat. Bila kata pertamanya berupa isim, seperti nama, kata ganti, atau kata berawalan alif lam, maka kalimat itu adalah jumlah ismiyah. Bila kata pertamanya berupa fi’il, seperti كَتَبَ, يَكْتُبُ, atau اُكْتُبْ, maka kalimat itu adalah jumlah fi’liyah. Patokan kata pembuka ini berlaku konsisten dan menjadi langkah pertama analisis Anda.
Langkah kedua, perhatikan unsur pembentuknya. Jumlah ismiyah dibangun dari mubtada dan khabar, dua unsur yang sama-sama marfu’ pada keadaan dasarnya. Jumlah fi’liyah dibangun dari fi’il dan fa’il, dan fa’il selalu marfu’ sedangkan maf’ul bih yang menyertainya manshub. Dengan mengenali pola harakat akhir tiap unsur, Anda dapat memastikan jenis kalimat sekaligus kedudukan tiap kata di dalamnya.
Langkah ketiga, perhatikan makna yang ditonjolkan. Jumlah ismiyah cenderung menonjolkan penetapan sifat atau keadaan yang tetap pada mubtada, seperti اللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ yang menetapkan sifat pengampun dan penyayang. Jumlah fi’liyah cenderung menonjolkan perbuatan yang terjadi dalam waktu tertentu, seperti نَزَّلَ القُرْآنَ yang menyampaikan peristiwa penurunan Al-Quran. Memahami nuansa makna ini memperhalus tafsir Anda atas ayat.
Sebagai latihan, ambillah beberapa ayat pendek lalu tentukan jenis kalimatnya satu per satu. Surah Al-Ikhlas dibuka dengan قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ, di mana setelah perintah قُلْ terdapat jumlah ismiyah هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ. Surah An-Nasr dibuka dengan إِذَا جَاءَ نَصْرُ اللَّهِ, yang memuat jumlah fi’liyah جَاءَ نَصْرُ اللَّهِ. Latihan rutin seperti ini menanamkan kepekaan yang membuat Anda mengenali jenis kalimat secara reflek saat membaca.
I’rab dan harakat akhir tiap unsur kalimat
Mengenal kedudukan i’rab tiap unsur menjadikan analisis jumlah ismiyah dan fi’liyah semakin tajam. Dalam jumlah ismiyah, mubtada berkedudukan marfu’ dengan tanda asal berupa dhammah, seperti المُؤْمِنُ pada المُؤْمِنُ صَابِرٌ. Khabar juga marfu’ dengan tanda dhammah pada keadaan dasarnya, seperti صَابِرٌ pada contoh yang sama. Bila mubtada atau khabar berbentuk mutsanna atau jamak mudzakkar salim, tanda rafa’nya berupa huruf alif atau wawu, dengan menggantikan dhammah.
Dalam jumlah fi’liyah, fa’il selalu berkedudukan marfu’. Tanda rafa’nya berupa dhammah pada isim mufrad dan jamak taksir, berupa alif pada isim mutsanna, dan berupa wawu pada jamak mudzakkar salim. Contohnya جَاءَ المُعَلِّمُونَ (para guru datang), di mana fa’il المُعَلِّمُونَ marfu’ dengan tanda wawu karena berbentuk jamak mudzakkar salim. Mengenali tanda rafa’ yang beragam ini menjaga Anda dari salah membaca harakat akhir.
Maf’ul bih dalam jumlah fi’liyah berkedudukan manshub. Tanda nashabnya berupa fathah pada isim mufrad dan jamak taksir, berupa ya pada isim mutsanna dan jamak mudzakkar salim, serta berupa kasrah pada jamak muannats salim. Contohnya رَأَيْتُ المُسْلِمِينَ (aku melihat orang-orang muslim), di mana maf’ul bih المُسْلِمِينَ manshub dengan tanda ya. Pengenalan tanda nashab ini melengkapi pemahaman Anda atas struktur kalimat fi’liyah.
Hubungan antara struktur kalimat dan i’rab inilah yang menjadi inti ilmu nahwu. Saat Anda menentukan sebuah kalimat sebagai jumlah ismiyah atau fi’liyah, Anda sekaligus memetakan kedudukan tiap kata dan tanda harakat akhirnya. Inilah keterampilan yang membuat bacaan Al-Quran Anda lebih tepat, sebab harakat akhir yang benar menjaga makna ayat dari pergeseran. Metode Arabi menanamkan keterampilan ini secara berjenjang agar santri membaca dengan paham, sekaligus membaca dengan benar.
Perbandingan jumlah ismiyah dan fi’liyah
Jumlah ismiyah dan fi’liyah memiliki perbedaan yang jelas dalam beberapa sisi. Dari sisi kata pembuka, jumlah ismiyah diawali isim sedangkan jumlah fi’liyah diawali fi’il. Dari sisi unsur pokok, jumlah ismiyah terdiri dari mubtada dan khabar, sedangkan jumlah fi’liyah terdiri dari fi’il dan fa’il. Dari sisi kedudukan, mubtada dan khabar sama-sama marfu’, sedangkan dalam jumlah fi’liyah fa’il marfu’ dan maf’ul bih manshub.
Dari sisi makna, jumlah ismiyah menyiratkan ketetapan dan kelangsungan sifat pada mubtada, sehingga sering dipakai untuk menetapkan keadaan yang melekat. Jumlah fi’liyah menyiratkan terjadinya perbuatan yang terikat waktu, sehingga sering dipakai untuk menceritakan peristiwa dan rangkaian kejadian. Karena itu, para ulama tafsir kerap memperhatikan pemilihan jenis kalimat dalam ayat sebagai isyarat makna yang halus dan bernilai.
Kedua jenis kalimat ini dapat saling masuk dan menyatu. Khabar dalam jumlah ismiyah bisa berupa jumlah fi’liyah, seperti المُؤْمِنُ يَتْلُو القُرْآنَ (seorang mukmin membaca Al-Quran), di mana يَتْلُو القُرْآنَ adalah jumlah fi’liyah yang menjadi khabar bagi mubtada المُؤْمِنُ. Demikian pula, sebuah jumlah dapat menjadi unsur dalam jumlah yang lebih besar. Memahami penggabungan ini membuka pemahaman atas ayat-ayat panjang yang berlapis struktur.
Mengetahui perbandingan ini membantu Anda memilih dan menafsirkan kalimat dengan lebih cermat. Saat menemui ayat, Anda dapat bertanya: jenis kalimat apa yang Allah pilih di sini, dan makna apa yang ditonjolkan oleh pilihan tersebut. Kepekaan terhadap pilihan struktur inilah yang membedakan pembaca yang sekadar mengeja huruf dari pembaca yang memahami pesan. Belajar bahasa Arab dengan metode yang jelas mengantarkan Anda menuju tingkat pemahaman yang kedua.
Kesalahan umum dalam memahami jumlah ismiyah dan fi’liyah
Kesalahan pertama yang sering terjadi adalah menyangka setiap kalimat yang memuat fi’il pasti jumlah fi’liyah. Patokan jenis kalimat terletak pada kata pertama, sedangkan adanya fi’il di tengah kalimat tidak menentukan jenisnya. Kalimat المُؤْمِنُ يَتْلُو القُرْآنَ tetap jumlah ismiyah karena diawali isim المُؤْمِنُ, meski di dalamnya terdapat fi’il يَتْلُو. Cermati selalu kata pembuka terlebih dahulu sebelum menetapkan jenis kalimat.
Kesalahan kedua adalah keliru memberi harakat akhir pada fa’il dan maf’ul bih. Sebagian pemula menjadikan fa’il manshub atau maf’ul bih marfu’ karena terbalik memahami kedudukannya. Ingatlah kaidah dasar: fa’il selalu marfu’ dan maf’ul bih selalu manshub. Kesalahan harakat seperti ini dapat menggeser makna kalimat, sebab penanda pelaku dan objek dalam bahasa Arab terletak pada harakat akhir, dengan urutan kata sebagai penguat.
Kesalahan ketiga adalah memaksa fi’il yang mendahului fa’il jamak menjadi berbentuk jamak. Kaidahnya, fi’il yang terletak sebelum fa’il tetap berbentuk mufrad meski fa’ilnya berbentuk dua atau jamak, sehingga yang benar adalah جَاءَ الطُّلَّابُ (para siswa datang), dengan menghindari جَاءُوا الطُّلَّابُ. Bentuk jamak pada fi’il dipakai bila fa’il berupa kata ganti yang menyatu, seperti pada جَاءُوا yang sudah memuat pelaku jamak.
Kesalahan keempat adalah lupa pada kemungkinan khabar didahulukan, lalu salah menentukan mubtada. Pada kalimat فِي البَيْتِ رَجُلٌ, sebagian pembaca menyangka البَيْتِ sebagai mubtada, padahal mubtada yang sebenarnya adalah رَجُلٌ dan فِي البَيْتِ adalah khabar yang didahulukan. Memahami keluwesan urutan dalam jumlah ismiyah menjaga Anda dari salah memetakan unsur kalimat.
Glosarium istilah jumlah ismiyah dan fi’liyah
Jumlah: susunan kata yang memberi makna sempurna, biasa disebut kalimat. Jumlah ismiyah: kalimat yang diawali isim, tersusun dari mubtada dan khabar. Jumlah fi’liyah: kalimat yang diawali fi’il, tersusun dari fi’il dan fa’il. Mubtada: isim yang menjadi pokok pembicaraan di awal kalimat dan berkedudukan marfu’. Khabar: bagian yang menyempurnakan makna mubtada dan berkedudukan marfu’.
Fi’il: kata kerja yang menunjukkan perbuatan disertai waktu. Fa’il: pelaku perbuatan yang berkedudukan marfu’. Maf’ul bih: objek atau sasaran perbuatan yang berkedudukan manshub. Na’ibul fa’il: pengganti pelaku yang naik menjadi marfu’ pada kalimat pasif. Marfu’: kedudukan kata dengan tanda asal dhammah. Manshub: kedudukan kata dengan tanda asal fathah. Majrur: kedudukan kata dengan tanda asal kasrah.
Khabar mufrad: khabar yang berupa satu kata. Jar majrur: rangkaian huruf jar dan isim setelahnya yang majrur. Zharaf: keterangan tempat atau waktu. Maf’ul muthlaq: mashdar yang menguatkan makna fi’il. Hal: keterangan keadaan pelaku atau objek saat perbuatan terjadi. Ta ta’nits sakinah: huruf ta sukun di akhir fi’il madhi yang menunjukkan pelaku perempuan. I’rab: perubahan harakat akhir kata menurut kedudukannya dalam kalimat. Glosarium ini menjadi bekal Anda menapaki nahwu secara berjenjang dan tertib.
Pertanyaan yang Sering Diajukan
Apa perbedaan jumlah ismiyah dan fi’liyah?
Apa saja unsur jumlah ismiyah?
Apa saja unsur jumlah fi’liyah?
Bagaimana cara membedakan jumlah ismiyah dan fi’liyah?
Apakah fa’il selalu berkedudukan marfu’?
Bisakah khabar berupa jumlah fi’liyah?
Mengapa fi’il sebelum fa’il jamak tetap berbentuk tunggal?
Sumber dan rujukan
- Al-Ajurrumiyyah (Matan al-Ajurrumiyyah fi 'Ilm al-Nahw) — Ibn Ajurrum al-Shanhaji
- Jami' al-Durus al-'Arabiyyah — Mustafa al-Ghalayini
- Sharh Ibn 'Aqil 'ala Alfiyyat Ibn Malik — Baha al-Din Abdullah ibn Aqil
- An-Nahw al-Wadih — Ali al-Jarim wa Mustafa Amin
Panduan Arabi Lainnya
Mengaji Kapan Usia Ideal Anak Mulai Belajar Mengaji?
Usia ideal anak mulai mengaji adalah sekitar 4 sampai 6 tahun, lewat pengenalan huruf hijaiyah yang menyenangkan. Simak panduan praktis per usia dari Arabi, untuk segala usia.
Baca artikel
Pengajar Cara Memilih Guru Ngaji yang Tepat untuk Keluarga
Panduan memilih guru ngaji yang tepat: keahlian dan latar pendidikan pengajar, kesabaran mengajar, kecocokan dengan santri, dan metode yang jelas. Untuk anak, remaja, hingga dewasa.
Baca artikel
Tahfidz Metode Tahfidz yang Melekat: Cara Hafalan Quran Tahan Lama
Panduan metode tahfidz yang melekat: talqin, setoran bertahap, dan muroja'ah dengan sistem sabaq, sabqi, manzil. Cara hafalan Quran tahan lama untuk segala usia.
Baca artikelSiap Mulai Belajar Bersama Arabi?
Pengajar ahli siap mendampingi Anda, satu per satu, online maupun tatap muka. Konsultasi gratis, tanpa syarat.