Pendidikan Islam untuk segala usia, online dan tatap muka
Bahasa Arab

Wazan dan Tashrif dalam Ilmu Sharaf: Panduan Lengkap dan Akurat

  • Disusun dan ditinjau Tim Kurikulum Arabi
  • Terbit 18 Juni 2026
  • Diperbarui 24 Juni 2026
  • Baca 12 menit

Berpijak pada jaringan 5.000+ pengajar Quran dan bahasa Arab, lulusan kampus pilihan, terlatih Metode Arabi.

Wazan dan tashrif adalah inti ilmu sharaf. Wazan ialah pola timbangan kata Arab yang diukur dengan akar tiga huruf fa, 'ain, dan lam. Tashrif ialah proses mengubah satu kata ke berbagai bentuk turunan. Tashrif istilahi menurunkan satu kata ke banyak jenis bentuk, sedangkan tashrif lughawi mengubahnya menurut pelaku.

Ilustrasi geometris Islam untuk panduan: Wazan dan Tashrif dalam Ilmu Sharaf: Panduan Lengkap dan Akurat

Apa itu wazan dan tashrif dalam ilmu sharaf

Wazan dan tashrif adalah dua pilar utama dalam ilmu sharaf, yaitu cabang tata bahasa Arab yang membahas perubahan bentuk kata. Wazan secara harfiah berarti timbangan. Dalam istilah ahli bahasa, wazan adalah pola baku yang dipakai untuk menimbang struktur sebuah kata Arab. Pola baku ini disusun dari tiga huruf akar yang disepakati, yaitu fa, 'ain, dan lam, yang dirangkai menjadi kata kunci fa-'a-la. Setiap kata Arab dapat Anda ukur dengan pola ini sehingga ketahuan susunan huruf asli dan huruf tambahannya.

Tashrif secara harfiah berarti mengubah atau membelokkan. Dalam ilmu sharaf, tashrif adalah proses mengubah satu kata pokok menjadi berbagai bentuk turunan yang masing-masing memiliki makna dan fungsi berbeda. Dari satu akar kata, Anda dapat melahirkan kata kerja lampau, kata kerja sekarang, kata perintah, kata pelaku, kata objek, kata tempat, kata alat, dan lainnya. Inilah yang membuat bahasa Arab kaya dan teratur, sebab ribuan kata tumbuh dari akar yang sedikit melalui kaidah wazan dan tashrif yang konsisten.

Memahami wazan dan tashrif memberi Anda kunci membaca kamus Arab, memahami struktur ayat Al-Quran, dan menebak makna kata yang belum pernah Anda jumpai. Saat Anda mengenali pola sebuah kata, Anda langsung tahu apakah ia bermakna pelaku, objek, tempat, atau alat, meski akar katanya baru bagi Anda. Kemampuan ini adalah fondasi yang ditanam Metode Arabi sejak jenjang dasar bahasa Arab.

Mizan sharfi: timbangan fa, 'ain, dan lam

Mizan sharfi adalah alat ukur kata dalam ilmu sharaf. Para ahli bahasa memilih akar fa-'ain-lam sebagai patokan timbangan karena akar ini ringan diucapkan dan jelas tiga hurufnya. Huruf pertama sebuah kata sejajar dengan fa, huruf kedua sejajar dengan 'ain, dan huruf ketiga sejajar dengan lam. Misalnya kata كَتَبَ yang berarti menulis ditimbang menjadi فَعَلَ, sebab kaf sejajar fa, ta sejajar 'ain, dan ba sejajar lam, dengan harakat yang sama persis.

Saat sebuah kata memiliki huruf tambahan di luar tiga huruf akar, huruf tambahan itu disalin apa adanya ke dalam timbangan. Contohnya kata اِسْتَغْفَرَ yang berarti memohon ampun ditimbang menjadi اِسْتَفْعَلَ. Tiga huruf akar غ-ف-ر tetap menempati posisi fa, 'ain, dan lam, sedangkan huruf alif, sin, dan ta disalin sebagai huruf tambahan. Dengan cara ini Anda dapat memisahkan huruf asli dari huruf imbuhan secara tepat.

Jika kata memiliki lebih dari tiga huruf asli, lam pada timbangan diulang. Akar empat huruf seperti دَحْرَجَ yang berarti menggelindingkan ditimbang menjadi فَعْلَلَ, dengan lam kedua mewakili huruf asli keempat. Penguasaan mizan sharfi inilah yang membuat seluruh sistem wazan dan tashrif dapat Anda terapkan secara konsisten pada kata apa pun.

Tashrif istilahi: menurunkan satu kata ke banyak bentuk

Tashrif istilahi adalah penurunan satu kata pokok menjadi rangkaian bentuk yang berbeda jenisnya, tersusun dalam urutan baku yang dikenal para pelajar sharaf. Urutan baku tashrif istilahi yang masyhur ialah: fi'il madhi (kata kerja lampau), fi'il mudhari' (kata kerja sekarang dan akan datang), mashdar (kata benda dasar), isim fa'il (kata pelaku), isim maf'ul (kata objek), fi'il amr (kata perintah), fi'il nahi (kata larangan), isim zaman dan isim makan (kata waktu dan tempat), serta isim alat (kata alat).

Contoh penerapan pada akar ن-ص-ر yang berarti menolong: نَصَرَ artinya ia telah menolong, يَنْصُرُ artinya ia sedang menolong, نَصْرًا adalah mashdar yang berarti pertolongan, نَاصِرٌ adalah isim fa'il yang berarti penolong, مَنْصُورٌ adalah isim maf'ul yang berarti yang ditolong, اُنْصُرْ adalah perintah berarti tolonglah, dan لَا تَنْصُرْ adalah larangan berarti jangan menolong. Satu akar melahirkan tujuh bentuk berbeda dengan makna yang saling berkaitan.

Tashrif istilahi melatih telinga dan lidah Anda mengenali pola makna. Setelah hafal urutannya, Anda otomatis tahu bahwa bentuk فَاعِل selalu menunjuk pelaku dan bentuk مَفْعُول selalu menunjuk objek, pada akar apa pun. Inilah mengapa pengajar bahasa Arab menekankan hafalan tashrif istilahi sejak awal, supaya kerangka berpikir morfologis tertanam kuat sejak dini.

Tashrif lughawi: mengubah kata menurut pelakunya

Tashrif lughawi adalah perubahan satu bentuk kata menurut pelakunya, yaitu menurut jumlah (tunggal, dua, banyak), jenis (laki-laki, perempuan), dan kehadiran (orang ketiga, orang kedua, orang pertama). Bila tashrif istilahi bergerak menyamping melahirkan jenis bentuk yang berbeda, tashrif lughawi bergerak ke dalam satu bentuk dan menyebarkannya ke seluruh kemungkinan pelaku.

Ambil contoh fi'il madhi نَصَرَ. Tashrif lughawi-nya untuk orang ketiga ialah: نَصَرَ untuk satu laki-laki, نَصَرَا untuk dua laki-laki, نَصَرُوا untuk banyak laki-laki, نَصَرَتْ untuk satu perempuan, نَصَرَتَا untuk dua perempuan, dan نَصَرْنَ untuk banyak perempuan. Pola ini berlanjut ke orang kedua seperti نَصَرْتَ yang berarti engkau menolong, dan orang pertama seperti نَصَرْتُ yang berarti aku menolong, hingga genap empat belas bentuk dalam susunan baku.

Empat belas bentuk itu tersusun dalam tiga kelompok pelaku. Enam bentuk untuk orang ketiga, yaitu pihak yang dibicarakan, mencakup tunggal, dua, dan banyak untuk laki-laki lalu perempuan. Enam bentuk untuk orang kedua, yaitu pihak yang diajak bicara, dengan susunan jumlah dan jenis yang sama, misalnya نَصَرْتَ untuk satu laki-laki dan نَصَرْتِ untuk satu perempuan. Dua bentuk terakhir untuk orang pertama, yaitu نَصَرْتُ untuk diri sendiri dan نَصَرْنَا untuk kami. Susunan baku ini wajib dihafal berurutan supaya lidah terbiasa dan tidak tertukar.

Penguasaan tashrif lughawi sangat penting untuk membaca teks Arab dengan benar. Sebuah kata kerja dalam ayat atau hadits selalu menunjuk pelaku tertentu, dan akhiran katanya menentukan siapa yang melakukan perbuatan. Tanpa tashrif lughawi, Anda akan keliru menentukan subjek kalimat dan salah memahami makna sebuah teks. Sebagai contoh, keliru membaca نَصَرُوا sebagai نَصَرَ akan menggeser makna dari mereka menolong menjadi ia menolong, sehingga pelaku yang banyak tereduksi menjadi satu orang.

Wazan tsulatsi mujarrad dan enam babnya

Fi'il tsulatsi mujarrad adalah kata kerja yang akarnya murni tiga huruf tanpa imbuhan. Kata kerja jenis ini terbagi menjadi enam bab menurut harakat 'ain fi'il pada bentuk lampau dan bentuk sekarang. Keenam bab ini menjadi dasar yang wajib Anda kuasai sebelum melangkah ke bentuk yang berimbuhan, sebab darinya seluruh pola dasar bahasa Arab bertumpu.

Bab pertama berwazan فَعَلَ - يَفْعُلُ seperti نَصَرَ - يَنْصُرُ (menolong). Bab kedua berwazan فَعَلَ - يَفْعِلُ seperti ضَرَبَ - يَضْرِبُ (memukul). Bab ketiga berwazan فَعَلَ - يَفْعَلُ seperti فَتَحَ - يَفْتَحُ (membuka), dengan syarat ada huruf tenggorokan pada 'ain atau lam fi'il. Bab keempat berwazan فَعِلَ - يَفْعَلُ seperti عَلِمَ - يَعْلَمُ (mengetahui). Bab kelima berwazan فَعُلَ - يَفْعُلُ seperti كَرُمَ - يَكْرُمُ (menjadi mulia). Bab keenam berwazan فَعِلَ - يَفْعِلُ seperti حَسِبَ - يَحْسِبُ (mengira).

Tiga bab pertama sama-sama berharakat fathah pada 'ain fi'il madhi, sehingga yang membedakannya hanyalah harakat 'ain fi'il mudhari', berturut-turut dhammah, kasrah, dan fathah. Karena itu pembeda utama bab satu, dua, dan tiga harus Anda hafal dari kamus, sebab bentuk lampaunya terlihat serupa. Khusus bab ketiga, fathah pada bentuk sekarang lazimnya muncul karena ada huruf tenggorokan, yaitu hamzah, ha, 'ain, ghain, kha, atau ha besar, pada 'ain atau lam fi'il, seperti pada فَتَحَ dan ذَهَبَ. Adapun bab keempat dan kelima dikenali sejak bentuk lampaunya, karena 'ain madhi-nya berharakat kasrah pada bab keempat dan dhammah pada bab kelima.

Tiap bab juga punya kecenderungan makna yang membantu Anda menebak isinya. Bab keempat yang berwazan فَعِلَ kerap memuat kata kerja yang menggambarkan keadaan sementara atau perasaan, seperti فَرِحَ (gembira) dan عَطِشَ (haus). Bab kelima yang berwazan فَعُلَ hampir selalu memuat kata kerja yang menggambarkan sifat tetap atau watak bawaan, seperti كَرُمَ (menjadi mulia), شَرُفَ (menjadi terhormat), dan حَسُنَ (menjadi baik). Pengenalan kecenderungan ini mempercepat Anda menempatkan kata baru ke babnya yang tepat.

Mengenali bab sebuah kata kerja menentukan harakat 'ain fi'il pada bentuk mudhari', yang sering keliru diucapkan pembelajar pemula. Kamus Arab biasanya menandai bab ini dengan menulis harakat 'ain pada bentuk sekarang, kadang dengan singkatan seperti نَصَرَ untuk bab pertama. Cara aman mempelajarinya ialah menghafal satu kata wakil tiap bab, lalu menyandarkan kata baru pada wakil yang harakatnya serupa. Saat Anda menguasai keenam bab tsulatsi mujarrad, separuh perjalanan wazan dan tashrif sudah Anda lalui dengan kokoh.

Wazan tsulatsi mazid: imbuhan yang mengubah makna

Fi'il tsulatsi mazid adalah kata kerja tiga huruf akar yang mendapat huruf tambahan. Tambahan ini membawa fungsi penting, sebab setiap imbuhan menghadirkan perubahan makna yang teratur dan dapat diprediksi. Para ahli sharaf menyusun pola mazid ke dalam beberapa kelompok menurut jumlah huruf tambahan, mulai dari satu huruf, dua huruf, hingga tiga huruf imbuhan.

Wazan أَفْعَلَ menambah satu hamzah di depan dan sering bermakna menjadikan, seperti أَكْرَمَ (memuliakan) dari كَرُمَ. Wazan فَعَّلَ menggandakan 'ain dan sering bermakna penekanan atau menjadikan banyak, seperti عَلَّمَ (mengajari) dari عَلِمَ. Wazan فَاعَلَ menambah alif setelah fa dan sering bermakna saling, seperti قَاتَلَ (saling memerangi). Wazan تَفَاعَلَ bermakna saling secara dua arah, seperti تَعَاوَنَ (saling menolong).

Wazan اِفْتَعَلَ sering bermakna menjadikan diri sendiri sebagai pelaku, seperti اِجْتَمَعَ (berkumpul). Wazan اِنْفَعَلَ bermakna menerima akibat perbuatan, seperti اِنْكَسَرَ (menjadi pecah). Wazan اِسْتَفْعَلَ sering bermakna meminta, seperti اِسْتَغْفَرَ (memohon ampun). Mengenali makna khas tiap wazan mazid membantu Anda menebak arti kata baru dengan cepat dan tepat, yang merupakan buah manis dari penguasaan wazan dan tashrif.

Perlu Anda catat bahwa makna khas wazan adalah kecenderungan yang kuat. Konteks kalimat tetap menjadi penentu akhir. Wazan أَفْعَلَ misalnya, selain bermakna menjadikan seperti أَجْلَسَ (mendudukkan), juga dapat bermakna memasuki waktu seperti أَصْبَحَ (memasuki waktu pagi) dan menemukan suatu sifat seperti أَكْرَمْتُ زَيْدًا yang bermakna aku mendapati Zaid mulia. Karena itu, kenali polanya sebagai petunjuk awal, lalu sesuaikan dengan konteks bacaan.

Untuk melatih kepekaan ini, bandingkan kata seberakar dengan wazan berbeda agar perubahan maknanya terasa. Dari akar ع-ل-م, عَلِمَ berarti mengetahui, عَلَّمَ berarti mengajari karena penekanan pada wazan فَعَّلَ, أَعْلَمَ berarti memberitahu, تَعَلَّمَ berarti belajar dengan menanggung proses, dan اِسْتَعْلَمَ berarti meminta informasi. Satu akar yang sama melahirkan lima makna terkait melalui imbuhan yang berbeda. Latihan membandingkan inilah yang mematangkan rasa bahasa Anda secara bertahap.

وَاسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِ

Wastaghfiru rabbakum tsumma tubu ilaihi

Dan mohonlah ampun kepada Tuhanmu, kemudian bertobatlah kepada-Nya.
QS Hud: 90

Faedah wazan dan tashrif untuk memahami Al-Quran

Penguasaan wazan dan tashrif memberi Anda akses langsung ke makna ayat tanpa selalu bergantung pada terjemah. Banyak kata kunci dalam Al-Quran dibentuk dengan wazan tertentu yang memikul nuansa makna khusus. Saat Anda mengenali wazannya, Anda menangkap nuansa yang sering hilang dalam terjemahan kata per kata.

Sebagai contoh, kata مُسْلِم berwazan isim fa'il dari أَسْلَمَ, sehingga maknanya ialah orang yang menyerahkan diri kepada Allah. Kata صَابِرِين berwazan jamak dari isim fa'il صَابِر, yang menunjuk para pelaku kesabaran yang aktif dan terus-menerus. Kata مُتَّقِين berwazan isim fa'il dari اِتَّقَى, menunjuk orang yang sungguh-sungguh menjaga diri dengan takwa. Wazan membuka lapisan makna yang halus ini bagi pembaca.

Wazan juga menjelaskan beda makna antara dua kata yang seakar dalam satu ayat. Pada kata صَابِر dan صَبَّار, keduanya berakar ص-ب-ر, tetapi صَبَّار berwazan mubalaghah yang menunjuk kesabaran yang berlipat dan terus-menerus, sehingga lebih kuat daripada صَابِر. Demikian pula غَافِر berarti yang mengampuni, sedangkan غَفَّار berwazan mubalaghah yang menunjuk Allah Maha Pengampun dengan ampunan yang amat luas. Wazan mubalaghah seperti فَعَّال, فَعُول, dan فَعِيل inilah yang memikul makna penyangatan dalam nama-nama dan sifat Allah.

Inilah yang ditanam Metode Arabi: anak diajak mengenali pola kata sejak dini supaya tilawah dan pemahaman tumbuh bersama. Ketika santri membaca ayat dan mengenali wazan sebuah kata, ia membaca dengan kesadaran makna, sehingga hubungannya dengan Al-Quran menjadi lebih dalam dan melekat. Pengenalan ini ditanam bertahap, dimulai dari pola yang paling sering muncul, lalu meluas seiring bertambahnya perbendaharaan kata santri.

إِنَّ الْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ

Innal-muslimina wal-muslimati wal-mu'minina wal-mu'minati

Sesungguhnya laki-laki dan perempuan muslim, laki-laki dan perempuan mukmin.
QS Al-Ahzab: 35

Langkah praktis menimbang kata dengan wazan

Menimbang kata adalah keterampilan inti yang dapat Anda latih dengan urutan tetap. Mulailah dari menentukan huruf akar, lalu identifikasi huruf tambahan, cocokkan ke pola fa-'ain-lam, dan terakhir bacalah maknanya dari pola yang Anda temukan. Dengan latihan rutin, proses ini menjadi cepat dan otomatis.

Perhatikan kata مَكْتُوب yang berarti tertulis. Huruf akarnya ك-ت-ب, sedangkan mim, wau, dan satu huruf adalah tambahan. Pola ini cocok dengan مَفْعُول, yaitu isim maf'ul yang bermakna objek yang dikenai perbuatan. Maka مَكْتُوب berarti sesuatu yang ditulis. Dengan menimbang, Anda memastikan makna secara struktural, tidak sekadar menebak.

Mari menimbang satu contoh berimbuhan agar langkahnya jelas. Ambil kata مُسْتَغْفِر yang sering Anda jumpai. Akarnya غ-ف-ر, sedangkan mim, sin, ta adalah imbuhan dari pola istif'al. Anda tempatkan غ pada fa, ف pada 'ain, ر pada lam, lalu salin huruf tambahan ke posisinya, sehingga timbangannya menjadi مُسْتَفْعِل. Pola مُسْتَفْعِل adalah isim fa'il dari wazan اِسْتَفْعَلَ, sehingga مُسْتَغْفِر bermakna orang yang memohon ampun. Dengan timbangan, makna dan jenis kata terungkap sekaligus.

Latihan menimbang sebaiknya Anda mulai dari kata yang sering muncul dalam Al-Quran dan percakapan sehari-hari, lalu meningkat ke kata yang lebih jarang. Sediakan kamus yang menandai akar kata, dan biasakan menuliskan timbangannya. Cara efektif lainnya ialah memilih satu surah pendek, lalu menimbang setiap kata kerja dan kata turunan di dalamnya satu per satu. Catat akar, timbangan, dan maknanya dalam sebuah tabel sederhana. Konsistensi inilah yang mematangkan penguasaan wazan dan tashrif Anda secara menyeluruh.

Kesalahan umum dalam mempelajari wazan dan tashrif

Kesalahan pertama ialah salah menentukan harakat 'ain fi'il pada bentuk mudhari'. Banyak pembelajar mengira semua kata kerja berbentuk sekarang menggunakan harakat dhammah, padahal harakatnya berbeda menurut bab tsulatsi. Misalnya يَضْرِبُ berharakat kasrah pada 'ain karena ia termasuk bab kedua, dan banyak yang keliru membacanya dhammah. Selalu periksa bab kata kerjanya melalui kamus.

Kesalahan kedua ialah menyalin huruf tambahan ke posisi akar saat menimbang. Pada kata اِسْتَغْفَرَ, sebagian keliru menimbangnya sebagai فَعْلَلَ karena mengira sin dan ta termasuk akar. Yang benar, akarnya hanya غ-ف-ر, dan huruf alif, sin, ta adalah imbuhan, sehingga timbangannya اِسْتَفْعَلَ. Bedakan huruf asli dari huruf tambahan dengan teliti.

Kesalahan ketiga ialah mencampur tashrif istilahi dengan tashrif lughawi. Keduanya bekerja pada arah yang berbeda; istilahi melahirkan jenis bentuk yang beragam, sedangkan lughawi menyebarkan satu bentuk ke seluruh pelaku. Kesalahan keempat ialah mengabaikan makna khas wazan mazid, sehingga أَكْرَمَ disamakan maknanya dengan كَرُمَ, padahal yang pertama bermakna memuliakan dan yang kedua bermakna menjadi mulia. Kesadaran terhadap perbedaan ini menjaga pemahaman Anda tetap akurat.

Glosarium istilah wazan dan tashrif

Sharaf ialah ilmu yang membahas perubahan bentuk kata Arab beserta kaidahnya. Wazan ialah pola timbangan kata yang diukur dengan akar fa-'ain-lam. Mizan sharfi ialah alat ukur kata berupa pola fa-'ain-lam itu sendiri. Tashrif ialah proses mengubah kata ke berbagai bentuk turunan. Tashrif istilahi ialah penurunan satu kata ke banyak jenis bentuk dalam urutan baku.

Tashrif lughawi ialah perubahan satu bentuk kata menurut pelaku. Fi'il madhi ialah kata kerja lampau. Fi'il mudhari' ialah kata kerja sekarang dan akan datang. Fi'il amr ialah kata kerja perintah. Mashdar ialah kata benda dasar yang menjadi sumber turunan. Isim fa'il ialah kata yang menunjuk pelaku perbuatan. Isim maf'ul ialah kata yang menunjuk objek yang dikenai perbuatan.

Tsulatsi mujarrad ialah kata kerja berakar tiga huruf tanpa imbuhan. Tsulatsi mazid ialah kata kerja berakar tiga huruf yang mendapat imbuhan. Ruba'i ialah kata kerja berakar empat huruf. Fa fi'il, 'ain fi'il, dan lam fi'il ialah sebutan untuk huruf pertama, kedua, dan ketiga dari akar kata. Memahami glosarium ini membantu Anda mengikuti penjelasan kitab sharaf dengan lancar.

Langkah demi langkah

  1. Tentukan huruf akar kata

    Pisahkan tiga huruf akar dari kata yang ingin Anda timbang. Huruf akar adalah huruf inti yang memikul makna dasar. Pada kata maktub, akarnya adalah kaf, ta, ba yang bermakna menulis, sehingga akar inilah yang Anda tempatkan pada timbangan.

    Buang huruf imbuhan yang umum seperti mim, alif, sin, ta, dan tasydid untuk menemukan akar yang murni.

  2. Tempatkan akar pada pola fa, 'ain, lam

    Sejajarkan huruf pertama akar dengan fa, huruf kedua dengan 'ain, dan huruf ketiga dengan lam. Pertahankan harakat yang sama persis seperti pada kata aslinya supaya timbangan akurat dan dapat dipercaya.

    Bila ada huruf akar keempat seperti pada dahraja, ulangi lam pada timbangan menjadi fa'lala.

  3. Salin huruf tambahan ke dalam timbangan

    Huruf di luar tiga akar disalin apa adanya ke posisinya dalam pola. Contoh istaghfara ditimbang istaf'ala karena alif, sin, ta adalah imbuhan, sedangkan ghain, fa, ra adalah akar yang menempati fa, 'ain, dan lam.

    Jangan masukkan huruf tambahan ke posisi akar, sebab itu kesalahan menimbang yang paling sering terjadi.

  4. Bacalah makna dari pola yang Anda temukan

    Setelah pola diketahui, simpulkan maknanya. Pola fa'il menunjuk pelaku, maf'ul menunjuk objek, maf'al menunjuk tempat, dan mif'al menunjuk alat. Maktub berwazan maf'ul, sehingga bermakna sesuatu yang ditulis.

    Hafalkan makna khas tiap wazan agar Anda dapat menebak arti kata baru dengan cepat dan tepat.

  5. Verifikasi timbangan via kamus

    Buka kamus Arab yang menandai akar kata, lalu cocokkan akar serta babnya dengan timbangan yang Anda susun. Periksa harakat 'ain fi'il pada bentuk mudhari' dan pastikan huruf tambahan tidak masuk ke posisi akar. Untuk maktub, kamus mengarahkan ke akar kataba dan membenarkan timbangan maf'ul.

    Jika timbangan Anda berbeda dengan kamus, telusuri ulang langkah penentuan akar, sebab di situlah kekeliruan paling sering bermula.

FAQ

Pertanyaan yang Sering Diajukan

Apa perbedaan wazan dan tashrif?
Wazan adalah pola timbangan kata yang diukur dengan akar fa, 'ain, dan lam untuk mengetahui struktur huruf asli dan tambahan. Tashrif adalah proses mengubah satu kata pokok menjadi berbagai bentuk turunan. Wazan adalah alat ukurnya, sementara tashrif adalah aktivitas menurunkan dan mengubah kata. Keduanya saling melengkapi dalam ilmu sharaf.
Apa beda tashrif istilahi dan tashrif lughawi?
Tashrif istilahi menurunkan satu kata ke banyak jenis bentuk berbeda, seperti dari kata kerja lampau ke kata pelaku, kata objek, hingga kata tempat. Tashrif lughawi menyebarkan satu bentuk ke seluruh kemungkinan pelaku menurut jumlah, jenis, dan kehadiran, hingga genap empat belas bentuk. Istilahi bergerak menyamping, lughawi bergerak ke dalam.
Mengapa akar fa, 'ain, dan lam dipilih sebagai timbangan?
Para ahli bahasa memilih akar fa, 'ain, dan lam karena ringan diucapkan, jelas tiga hurufnya, dan mewakili pola umum kata Arab yang mayoritas berakar tiga huruf. Saat menimbang, huruf pertama kata sejajar fa, huruf kedua sejajar 'ain, dan huruf ketiga sejajar lam, dengan harakat yang sama persis.
Berapa bab fi'il tsulatsi mujarrad?
Fi'il tsulatsi mujarrad terbagi menjadi enam bab menurut harakat 'ain fi'il pada bentuk lampau dan sekarang. Contohnya nashara-yanshuru, dharaba-yadhribu, fataha-yaftahu, 'alima-ya'lamu, karuma-yakrumu, dan hasiba-yahsibu. Mengenali bab menentukan harakat yang benar pada bentuk sekarang.
Bagaimana cara menimbang kata yang berimbuhan?
Tentukan dulu tiga huruf akar dan tempatkan pada posisi fa, 'ain, dan lam. Lalu salin huruf tambahan apa adanya ke dalam timbangan pada posisinya. Contohnya istaghfara ditimbang istaf'ala, sebab akarnya ghain, fa, ra, sedangkan alif, sin, ta adalah imbuhan. Dengan cara ini huruf asli dan tambahan terpisah jelas.
Apa manfaat wazan dan tashrif untuk memahami Al-Quran?
Wazan dan tashrif membuat Anda mengenali pola makna sebuah kata, seperti pelaku, objek, atau tempat, meski akar katanya baru. Kata seperti muslim, shabirin, dan muttaqin memikul nuansa makna dari wazannya. Dengan mengenali pola ini, Anda menangkap lapisan makna ayat yang sering hilang dalam terjemahan kata per kata.
Apakah wazan mazid mengubah makna kata?
Ya, setiap imbuhan pada wazan mazid membawa perubahan makna yang teratur. Wazan af'ala sering bermakna menjadikan, fa''ala bermakna penekanan atau menjadikan banyak, fa'ala bermakna saling, infa'ala bermakna menerima akibat, dan istaf'ala sering bermakna meminta. Mengenali makna khas tiap wazan membantu menebak arti kata baru.

Sumber dan rujukan

  • Matan al-Bina wa al-Asas — Karya Mulla 'Abdullah ad-Danqazi
  • Kitab at-Tashrif al-'Izzi — Karya Izzuddin az-Zanjani
  • Syadza al-'Arf fi Fann ash-Sharf — Karya Ahmad al-Hamalawi
  • Jami' ad-Durus al-'Arabiyyah — Karya Mustafa al-Ghulayaini
Mulai Hari Ini

Siap Mulai Belajar Bersama Arabi?

Pengajar ahli siap mendampingi Anda, satu per satu, online maupun tatap muka. Konsultasi gratis, tanpa syarat.

Daftar