Hukum Mad dalam Tajwid: Mad Asli dan Semua Cabang Mad Far'i
Berpijak pada jaringan 5.000+ pengajar Quran dan bahasa Arab, lulusan kampus pilihan, terlatih Metode Arabi.
Hukum mad dalam tajwid mengatur cara memanjangkan bunyi huruf mad, yaitu alif, wawu sukun, dan ya sukun, ketika syaratnya terpenuhi. Mad terbagi dua: mad asli yang dibaca dua harakat, dan mad far'i yang panjangnya bertambah karena sebab hamzah atau sukun.
Pengertian Hukum Mad dan Kedudukannya dalam Tajwid
Hukum mad dalam tajwid adalah aturan yang mengatur pemanjangan bunyi huruf tertentu saat membaca Al-Quran. Secara bahasa, mad berarti tambahan atau memanjangkan. Secara istilah ilmu tajwid, mad adalah memanjangkan suara pada salah satu huruf mad ketika bertemu sebab tertentu. Hukum mad menjadi salah satu pembahasan pokok tajwid karena kesalahan memanjangkan atau memendekkan bacaan dapat mengubah makna ayat.
Huruf mad ada tiga, yaitu alif (ا) yang didahului fathah, wawu sukun (و) yang didahului dhammah, dan ya sukun (ي) yang didahului kasrah. Tanda paling mudah mengenali huruf mad adalah harakat sebelumnya yang sejenis dengan hurufnya. Contoh ringkasnya terdapat pada kata نُوحِيهَا yang memuat ketiga huruf mad sekaligus dalam satu kata.
Memahami hukum mad menolong Anda membaca Al-Quran dengan ukuran panjang yang tepat. Setiap mad memiliki kadar panjang yang dihitung dengan satuan harakat. Satu harakat setara dengan waktu mengangkat atau menurunkan satu jari secara sedang. Dengan ukuran ini, bacaan Anda menjadi rapi, teratur, dan terhindar dari pemanjangan berlebihan maupun pemendekan yang merusak.
Para ahli tajwid membagi hukum mad menjadi dua kelompok besar, yaitu mad asli atau mad thabi'i dan mad far'i atau mad cabang. Mad asli adalah panjang dasar dua harakat tanpa sebab tambahan. Mad far'i adalah mad yang panjangnya bertambah dari dua harakat karena bertemu hamzah atau sukun. Seluruh cabang mad bermuara pada dua pangkal ini.
Mad Asli (Mad Thabi'i): Panjang Dasar Dua Harakat
Mad asli, yang juga disebut mad thabi'i, adalah mad pokok yang menjadi dasar seluruh hukum mad. Disebut thabi'i karena bersifat alami, yaitu orang yang berakhlak fitrah pun memanjangkannya secara wajar tanpa kurang dan tanpa lebih. Mad asli terjadi apabila ada huruf mad dan sesudahnya tidak bertemu hamzah maupun sukun. Panjang bacaannya tetap dua harakat.
Contoh mad asli sangat mudah ditemukan. Pada kata قَالَ, huruf alif setelah qaf berfathah dibaca panjang dua harakat. Pada kata يَقُولُ, huruf wawu setelah qaf berdhammah dibaca dua harakat. Pada kata قِيلَ, huruf ya setelah qaf berkasrah dibaca dua harakat. Ketiganya menjadi pola dasar yang perlu Anda kuasai lebih dulu sebelum mempelajari cabang mad far'i.
Mad asli memiliki beberapa bentuk turunan yang tetap berkadar dua harakat. Di antaranya mad badal, yaitu hamzah berbaris yang diikuti huruf mad, seperti pada kata ءَامَنُوا. Ada pula mad iwadh, yaitu tanwin fathah di akhir kata yang diwaqafkan sehingga dibaca seperti alif, contohnya عَلِيمًا dibaca عَلِيمَا saat berhenti. Termasuk pula mad tamkin, yaitu dua ya bertemu, contohnya حُيِّيتُم dan النَّبِيِّينَ.
Bentuk lain dari mad asli adalah mad shilah qashirah, yaitu ha dhamir yang dibaca panjang dua harakat apabila berada di antara dua huruf berharakat dan sesudahnya tidak ada hamzah. Contohnya pada lafal إِنَّهُۥ كَانَ, ha pada إِنَّهُۥ dibaca dua harakat. Semua turunan ini tetap dihukumi dua harakat selama tidak ada sebab tambahan yang menaikkan panjangnya.
Mad Far'i: Pengertian dan Dua Sebab Utamanya
Mad far'i adalah mad cabang yang panjangnya bertambah melebihi dua harakat karena adanya sebab. Kata far'i berarti cabang, sebab seluruh mad ini bercabang dari mad asli. Tanpa sebab, huruf mad akan kembali pada hukum asalnya, yaitu dua harakat. Karena itu, mengenali sebab adalah kunci utama menentukan panjang mad far'i.
Sebab mad far'i ada dua, yaitu hamzah dan sukun. Sebab hamzah melahirkan tiga jenis mad: mad wajib muttashil, mad jaiz munfashil, dan mad shilah thawilah. Sebab sukun melahirkan beberapa jenis pula, yaitu mad 'aridh lissukun, mad lin, mad lazim dengan empat cabangnya, dan mad farq. Setiap jenis memiliki kadar panjang yang khas.
Sukun yang menjadi sebab mad terbagi dua keadaan. Pertama, sukun yang tetap, yaitu sukun asli yang ada baik saat washal maupun waqaf, dan inilah sebab mad lazim. Kedua, sukun yang baru muncul karena waqaf, yaitu huruf akhir yang aslinya berharakat lalu disukunkan ketika berhenti, dan inilah sebab mad 'aridh lissukun. Memilah dua keadaan sukun ini menentukan kadar panjang yang Anda baca.
Para ulama qiraat menetapkan ukuran panjang mad far'i dengan satuan harakat. Kadar yang dikenal adalah dua, empat, lima, dan enam harakat sesuai jenis mad dan riwayat bacaan. Pada riwayat Hafsh dari 'Ashim yang umum dipakai di Indonesia, mad wajib muttashil dibaca empat sampai lima harakat, sedangkan mad lazim dibaca enam harakat secara tetap.
Mad Karena Sebab Hamzah: Muttashil, Munfashil, dan Shilah Thawilah
Mad wajib muttashil terjadi apabila huruf mad bertemu hamzah dalam satu kata yang sama. Disebut wajib karena seluruh ahli qiraat sepakat memanjangkannya melebihi dua harakat, dan disebut muttashil karena huruf mad dan hamzah bersambung dalam satu kata. Panjangnya empat sampai lima harakat. Contohnya pada kata جَآءَ, سَوَآءٌ, dan السَّمَآءِ.
Mad jaiz munfashil terjadi apabila huruf mad berada di akhir kata dan hamzah berada di awal kata berikutnya. Disebut jaiz karena para ahli qiraat berbeda pendapat tentang kadar panjangnya, dan disebut munfashil karena huruf mad dan hamzah terpisah pada dua kata. Pada riwayat Hafsh, panjangnya empat sampai lima harakat. Contohnya بِمَآ أُنزِلَ, إِنَّآ أَعْطَيْنَا, dan قُوٓا أَنفُسَكُمْ.
Mad shilah thawilah, atau disebut juga shilah kubra, terjadi pada ha dhamir yang dibaca panjang dan sesudahnya bertemu hamzah qatha. Hukumnya mengikuti mad jaiz munfashil karena sebabnya sama, yaitu hamzah pada kata berikutnya, sehingga panjangnya empat sampai lima harakat. Contohnya pada lafal عِندَهُۥٓ إِلَّا dan مَالَهُۥٓ أَخْلَدَهُ.
Penting untuk menjaga keseragaman ukuran dalam satu bacaan. Apabila Anda memilih membaca mad munfashil empat harakat, jagalah ukuran itu konsisten di sepanjang tilawah, lalu samakan pula dengan ukuran muttashil yang sejenis sebab. Keseragaman ini menjadi ciri bacaan yang terlatih dan tertib menurut kaidah riwayat Hafsh.
إِنَّآ أَعْطَيْنَٰكَ ٱلْكَوْثَرَ
Innaa a'thainaakal kautsar
Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak
Mad Karena Sukun Baru: 'Aridh Lissukun dan Mad Lin
Mad 'aridh lissukun terjadi apabila huruf mad bertemu huruf yang aslinya berharakat, lalu huruf itu disukunkan karena waqaf di akhir ayat atau kalimat. Disebut 'aridh karena sukunnya bersifat baru dan muncul akibat berhenti. Panjangnya boleh dua, empat, atau enam harakat menurut pilihan qari, asalkan konsisten. Contohnya نَسْتَعِينُ saat diwaqafkan, dan الْعَالَمِينَ pada akhir ayat.
Karena sukun pada mad 'aridh bersifat baru, hukumnya hilang apabila bacaan diteruskan tanpa berhenti. Saat washal, huruf akhir kembali berharakat sehingga hukumnya menjadi mad asli dua harakat. Karena itu, Anda perlu memperhatikan tempat waqaf untuk menentukan apakah panjang ditambah atau cukup dibaca dua harakat.
Mad lin atau mad layyin terjadi apabila wawu sukun atau ya sukun didahului huruf berfathah, lalu sesudahnya ada huruf yang disukunkan karena waqaf. Wawu dan ya di sini disebut huruf lin karena bunyinya lembut. Panjangnya mengikuti mad 'aridh, yaitu dua, empat, atau enam harakat saat waqaf. Contohnya خَوْفٍ dan الْبَيْتِ saat diwaqafkan, juga قُرَيْشٍ.
Apabila huruf lin berada di tengah bacaan tanpa waqaf sesudahnya, maka wawu dan ya tersebut dibaca biasa tanpa pemanjangan. Pemanjangan lin hanya muncul ketika ada sukun baru akibat berhenti. Maka kunci mad lin adalah keberadaan waqaf, sama seperti mad 'aridh lissukun yang juga bergantung pada keadaan berhenti.
Mad Lazim: Empat Cabang dengan Panjang Enam Harakat
Mad lazim terjadi apabila huruf mad bertemu sukun asli yang tetap, baik saat washal maupun waqaf. Disebut lazim karena panjangnya tetap dan disepakati enam harakat tanpa berubah. Mad lazim adalah mad terpanjang dalam tajwid. Para ulama membaginya menjadi empat cabang berdasarkan letaknya pada kata atau huruf, dan jenis sukun yang mengiringinya.
Mad lazim kilmi mutsaqqal terjadi apabila huruf mad bertemu huruf bertasydid dalam satu kata. Disebut kilmi karena terjadi pada kata, dan mutsaqqal karena ada tasydid yang membuat bacaan terasa berat. Contohnya الضَّآلِّينَ pada surah Al-Fatihah dan الصَّآخَّةُ. Panjangnya enam harakat secara tetap.
Mad lazim kilmi mukhaffaf terjadi apabila huruf mad bertemu sukun asli tanpa tasydid dalam satu kata. Disebut mukhaffaf karena terasa ringan tanpa tasydid. Contoh yang masyhur hanya terdapat pada kata ءَآلْـَٔانَ di surah Yunus, dibaca enam harakat. Cabang ini langka, sehingga perlu Anda hafalkan tempatnya.
Mad lazim harfi terjadi pada huruf-huruf pembuka surah atau huruf muqaththa'ah yang ejaannya terdiri atas tiga huruf dengan huruf tengah berupa huruf mad, seperti pada nun, qaf, shad, 'ain, sin, lam, kaf, dan mim. Apabila huruf ketiganya bersukun asli disebut harfi mutsaqqal bila diidghamkan, contohnya الٓمٓ pada lam dan mim, dan disebut harfi mukhaffaf bila tanpa idgham, contohnya قٓ dan صٓ. Semuanya dibaca enam harakat.
Mad Khusus: Mad Farq, Mad Badal, Iwadh, dan Tamkin
Mad farq adalah mad yang muncul untuk membedakan kalimat tanya dari kalimat berita. Mad farq terjadi apabila hamzah istifham bertemu lam alif yang seharusnya berhamzah washal, sehingga dibaca panjang enam harakat agar tidak rancu dengan kalimat berita. Mad ini hanya terdapat pada empat tempat di Al-Quran, di antaranya قُلْ ءَآلذَّكَرَيْنِ di surah Al-An'am dan ءَآللَّهُ خَيْرٌ di surah An-Naml.
Mad badal adalah pengganti hamzah sukun. Ketika dua hamzah bertemu dan yang kedua sukun, hamzah kedua diganti menjadi huruf mad yang sesuai harakat hamzah pertama. Contohnya ءَامَنَ yang asalnya أَأْمَنَ, dan إِيمَانًا yang asalnya إِئْمَانًا. Mad badal dibaca dua harakat seperti mad asli.
Mad iwadh adalah mad pengganti tanwin fathah. Apabila kata berakhiran tanwin fathah diwaqafkan, tanwin dibaca sebagai alif sepanjang dua harakat. Contohnya كِتَابًا dibaca كِتَابَا saat berhenti, dan حَكِيمًا dibaca حَكِيمَا. Pengecualiannya, tanwin fathah pada ta marbuthah tidak dibaca iwadh, sebab saat waqaf ta marbuthah berubah menjadi ha sukun.
Mad tamkin adalah mad yang muncul karena pertemuan dua huruf ya, yaitu ya bertasydid berkasrah bertemu ya sukun, atau ya berkasrah bertemu ya sukun. Disebut tamkin karena pemanjangannya menguatkan bunyi ya pertama. Contohnya حُيِّيتُم, النَّبِيِّينَ, dan فِى يَوْمٍ. Mad tamkin dibaca dua harakat seperti mad asli.
Ringkasan Kadar Panjang Setiap Mad
Agar mudah diingat, kadar panjang mad dapat dikelompokkan menjadi tiga tingkat menurut riwayat Hafsh dari 'Ashim. Tingkat pertama dua harakat, mencakup mad asli dan semua turunannya, yaitu mad badal, mad iwadh, mad tamkin, dan mad shilah qashirah. Inilah panjang dasar yang menjadi acuan seluruh hukum mad.
Tingkat kedua empat sampai lima harakat, mencakup mad wajib muttashil, mad jaiz munfashil, dan mad shilah thawilah. Ketiganya disebabkan oleh hamzah. Pada mad 'aridh lissukun dan mad lin, panjang empat harakat menjadi salah satu pilihan di samping dua atau enam harakat, sesuai kehendak qari dengan menjaga konsistensi.
Tingkat ketiga enam harakat, mencakup mad lazim dengan empat cabangnya, yaitu kilmi mutsaqqal, kilmi mukhaffaf, harfi mutsaqqal, dan harfi mukhaffaf, ditambah mad farq. Inilah pemanjangan terpanjang yang tetap dan disepakati. Mad 'aridh lissukun dan mad lin juga boleh dibaca enam harakat saat waqaf.
Menguasai pengelompokan ini memudahkan Anda menerapkan hukum mad secara cepat saat tilawah. Langkah praktisnya, kenali dulu huruf mad, lalu cari sebabnya: tanpa sebab berarti dua harakat, sebab hamzah berarti empat sampai lima harakat, dan sebab sukun asli berarti enam harakat. Dengan kerangka ini, bacaan Anda menjadi teratur sesuai kaidah.
Cara Melatih Hukum Mad secara Bertahap
Latihan hukum mad paling baik dimulai dari mengokohkan mad asli. Pilih beberapa ayat pendek seperti surah Al-Ikhlash dan Al-Kautsar, lalu tandai setiap huruf mad. Bacalah perlahan dengan menahan tiap mad asli tepat dua harakat. Tahap ini membangun rasa panjang dasar yang menjadi acuan seluruh hukum mad lainnya, sehingga telinga Anda terbiasa membedakan bunyi panjang dari bunyi pendek.
Setelah mad asli mantap, naik ke mad far'i bersebab hamzah. Cari kata yang memuat mad wajib muttashil seperti جَآءَ dan السَّمَآءِ, lalu latih memanjangkannya empat harakat dengan ukuran yang stabil. Bandingkan rasanya dengan mad asli dua harakat agar Anda merasakan selisih panjangnya secara nyata. Latihan komparatif ini menanamkan kepekaan ukuran yang menjadi fondasi tilawah yang tertib.
Tahap berikutnya adalah melatih mad bersebab sukun. Latih mad 'aridh lissukun dengan memilih tempat waqaf di akhir ayat, lalu tetapkan satu ukuran, misalnya empat harakat, dan jaga keseragamannya. Untuk mad lazim, hafalkan tempat-tempatnya yang khas seperti الضَّآلِّينَ dan ءَآلْـَٔانَ, lalu latih menahannya enam harakat penuh. Mad lazim perlu ketegasan ukuran karena panjangnya tetap dan tidak boleh dikurangi.
Cara terbaik mengukuhkan hukum mad adalah belajar dengan bimbingan ustadz atau ustadzah yang menyimak langsung bacaan Anda. Talqin, yaitu menirukan bacaan guru, dan murajaah, yaitu mengulang bacaan secara berkala, menolong memperbaiki ukuran panjang yang sulit dideteksi sendiri. Dengan metode Arabi yang terstruktur, latihan mad dijalankan bertahap dari mad asli hingga mad lazim, sehingga bacaan Anda tumbuh teratur dan melekat.
Perbandingan Antar Jenis Mad agar Tidak Tertukar
Membandingkan jenis mad yang mirip menolong Anda menghindari kekeliruan saat tilawah. Mad wajib muttashil dan mad jaiz munfashil sama-sama bersebab hamzah dan sama-sama empat sampai lima harakat pada riwayat Hafsh. Pembedanya terletak pada letak hamzah: muttashil bila hamzah menyatu dalam satu kata, dan munfashil bila hamzah berada di kata berikutnya. Mengenali batas kata menjadi kunci membedakan keduanya.
Mad 'aridh lissukun dan mad lazim sama-sama bersebab sukun, namun jenis sukunnya berbeda. Mad 'aridh disebabkan sukun baru yang muncul karena waqaf, sehingga panjangnya fleksibel dua sampai enam harakat dan hukumnya hilang saat washal. Mad lazim disebabkan sukun asli yang tetap, sehingga panjangnya pasti enam harakat baik saat washal maupun waqaf. Sumber sukun inilah penentu utamanya.
Mad lin dan mad asli juga perlu dipisahkan dengan cermat. Mad asli berasal dari huruf mad murni, yaitu alif, wawu sukun setelah dhammah, atau ya sukun setelah kasrah. Mad lin berasal dari wawu sukun atau ya sukun yang didahului fathah, dan baru dibaca panjang ketika ada waqaf sesudahnya. Tanpa waqaf, huruf lin dibaca biasa tanpa pemanjangan, sedangkan mad asli tetap dua harakat dalam segala keadaan.
Mad badal dan mad lazim kilmi mukhaffaf kadang membingungkan karena keduanya melibatkan hamzah. Mad badal adalah hamzah berharakat diikuti huruf mad, dibaca dua harakat seperti pada ءَامَنُوا. Mad lazim kilmi mukhaffaf adalah huruf mad bertemu sukun asli dalam satu kata, dibaca enam harakat seperti pada ءَآلْـَٔانَ. Memperhatikan apakah sesudah huruf mad ada sukun asli akan menjernihkan perbedaan keduanya.
Kesalahan Umum dalam Membaca Hukum Mad
Kesalahan pertama yang sering terjadi adalah memendekkan mad asli sehingga huruf mad nyaris hilang bunyinya. Contohnya membaca قَالَ menjadi seperti qal tanpa panjang. Pemendekan ini dapat mengaburkan makna, sebab قَالَ yang berarti dia berkata berbeda dari قَلَّ yang berarti sedikit. Pastikan setiap mad asli tetap dibaca penuh dua harakat.
Kesalahan kedua adalah memanjangkan mad asli melebihi dua harakat tanpa sebab. Sebagian pembaca menarik panjang vokal pada kata yang seharusnya pendek karena terbawa irama. Padahal mad asli tetap dua harakat selama tidak ada hamzah atau sukun sesudahnya. Pemanjangan berlebihan membuat bacaan keluar dari kaidah dan terasa tidak proporsional.
Kesalahan ketiga adalah tidak konsisten dalam ukuran mad far'i. Misalnya membaca mad munfashil empat harakat pada satu ayat lalu lima harakat pada ayat berikutnya tanpa alasan. Konsistensi adalah ciri bacaan terlatih. Tetapkan satu ukuran di awal tilawah, lalu jaga sampai akhir agar bacaan Anda rapi dan tertib.
Kesalahan keempat adalah keliru membedakan mad lazim yang enam harakat dengan mad 'aridh lissukun yang fleksibel. Sebagian pembaca menyamakan keduanya sehingga memanjangkan mad lazim kurang dari enam harakat, atau sebaliknya memanjangkan mad asli di tengah bacaan seperti mad lazim. Kunci pembedanya adalah jenis sukun: sukun asli yang tetap berarti mad lazim enam harakat, sukun baru karena waqaf berarti mad 'aridh yang boleh dua sampai enam harakat.
Glosarium Istilah Penting Hukum Mad
Mad: memanjangkan bunyi huruf mad menurut kadar yang ditetapkan. Huruf mad: alif sukun setelah fathah, wawu sukun setelah dhammah, dan ya sukun setelah kasrah. Harakat: satuan ukuran panjang mad, setara waktu mengangkat atau menurunkan satu jari secara sedang. Mad asli atau mad thabi'i: mad dasar dua harakat tanpa sebab tambahan.
Mad far'i: mad cabang yang panjangnya bertambah karena sebab hamzah atau sukun. Mad wajib muttashil: huruf mad bertemu hamzah dalam satu kata, empat sampai lima harakat. Mad jaiz munfashil: huruf mad di akhir kata bertemu hamzah di awal kata berikutnya, empat sampai lima harakat. Mad shilah: pemanjangan ha dhamir, qashirah dua harakat dan thawilah empat sampai lima harakat.
Mad 'aridh lissukun: huruf mad bertemu sukun baru karena waqaf, dua sampai enam harakat. Mad lin: wawu atau ya sukun setelah fathah lalu diwaqafkan, dua sampai enam harakat. Mad lazim: huruf mad bertemu sukun asli yang tetap, enam harakat. Mad farq: pemanjangan untuk membedakan kalimat tanya dari berita, enam harakat.
Mad badal: huruf mad pengganti hamzah sukun, dua harakat. Mad iwadh: huruf mad pengganti tanwin fathah saat waqaf, dua harakat. Mad tamkin: pemanjangan akibat pertemuan dua ya, dua harakat. Washal: meneruskan bacaan tanpa berhenti. Waqaf: berhenti pada akhir kata atau ayat. Riwayat Hafsh dari 'Ashim: jalur bacaan yang umum dipakai di Indonesia dan menjadi acuan kadar mad pada artikel ini.
Pertanyaan yang Sering Diajukan
Apa perbedaan mad asli dan mad far'i?
Berapa harakat panjang mad lazim?
Apa saja huruf mad dalam tajwid?
Bagaimana cara mengukur satu harakat?
Apa contoh mad wajib muttashil dalam Al-Quran?
Apakah mad 'aridh lissukun selalu enam harakat?
Mengapa penting menguasai hukum mad?
Sumber dan rujukan
- Hidayatul Mustafid fi Ahkam At-Tajwid — Muhammad Al-Mahmud
- Al-Mulakhkhash Al-Mufid fi 'Ilm At-Tajwid — Muhammad Ahmad Ma'bad
- Ghayatul Murid fi 'Ilmit Tajwid — Atiyyah Qabil Nashr
- Nihayatul Qaul Al-Mufid fi 'Ilmit Tajwid — Muhammad Makki Nashr Al-Juraisi
Panduan Arabi Lainnya
Mengaji Kapan Usia Ideal Anak Mulai Belajar Mengaji?
Usia ideal anak mulai mengaji adalah sekitar 4 sampai 6 tahun, lewat pengenalan huruf hijaiyah yang menyenangkan. Simak panduan praktis per usia dari Arabi, untuk segala usia.
Baca artikel
Pengajar Cara Memilih Guru Ngaji yang Tepat untuk Keluarga
Panduan memilih guru ngaji yang tepat: keahlian dan latar pendidikan pengajar, kesabaran mengajar, kecocokan dengan santri, dan metode yang jelas. Untuk anak, remaja, hingga dewasa.
Baca artikel
Tahfidz Metode Tahfidz yang Melekat: Cara Hafalan Quran Tahan Lama
Panduan metode tahfidz yang melekat: talqin, setoran bertahap, dan muroja'ah dengan sistem sabaq, sabqi, manzil. Cara hafalan Quran tahan lama untuk segala usia.
Baca artikelSiap Mulai Belajar Bersama Arabi?
Pengajar ahli siap mendampingi Anda, satu per satu, online maupun tatap muka. Konsultasi gratis, tanpa syarat.