Pendidikan Islam untuk segala usia, online dan tatap muka
Bahasa Arab

I'rab: Rafa', Nashab, Jar, Jazm dan Tandanya (Panduan Lengkap)

  • Disusun dan ditinjau Tim Kurikulum Arabi
  • Terbit 6 Maret 2026
  • Diperbarui 24 Maret 2026
  • Baca 14 menit

Berpijak pada jaringan 5.000+ pengajar Quran dan bahasa Arab, lulusan kampus pilihan, terlatih Metode Arabi.

I'rab adalah perubahan akhir kata dalam bahasa Arab karena perbedaan amil yang memengaruhinya. Empat keadaannya yaitu rafa', nashab, jar, dan jazm. Isim mengenal rafa', nashab, dan jar; fi'il mudhari' mengenal rafa', nashab, dan jazm; sedangkan jar khusus isim dan jazm khusus fi'il.

Ilustrasi geometris Islam untuk panduan: I'rab: Rafa', Nashab, Jar, Jazm dan Tandanya (Panduan Lengkap)

Apa Itu I'rab dalam Ilmu Nahwu

I'rab adalah perubahan keadaan akhir sebuah kata dalam bahasa Arab yang disebabkan oleh perbedaan amil (faktor) yang masuk padanya, baik perubahan itu tampak secara lafaz maupun hanya diperkirakan. Secara bahasa, i'rab berarti menjelaskan atau menerangkan, sebab perubahan harakat akhir kata itulah yang menjelaskan kedudukan dan maknanya di dalam kalimat. Para ulama nahwu menempatkan i'rab sebagai inti pembahasan, karena dari sinilah makna kalimat menjadi terang dan teratur.

Perhatikan contoh sederhana pada kata yang sama dengan tiga keadaan: jaa'a Zaidun (Zaid datang), ra'aitu Zaidan (saya melihat Zaid), dan marartu bi Zaidin (saya berjalan melewati Zaid). Akhir kata Zaid bergeser dari dhammah (un), ke fathah (an), lalu ke kasrah (in). Pergeseran inilah yang dinamakan i'rab. Tanpa pemahaman i'rab, pembaca sulit membedakan mana pelaku dan mana objek dalam satu kalimat.

Lawan dari i'rab adalah bina', yaitu kata yang harakat akhirnya tetap meskipun amil yang masuk berbeda. Memahami i'rab membuka pintu memahami struktur Al-Quran dan kitab-kitab klasik secara langsung, karena makna ayat sering bergantung pada keadaan akhir kata. Inilah salah satu keistimewaan bahasa Arab yang membuatnya kaya dan presisi dalam menyampaikan makna.

Perlu Anda bedakan sejak awal antara kata yang mu'rab dan kata yang mabni. Kata mu'rab adalah kata yang harakat akhirnya berubah mengikuti amil, mencakup mayoritas isim dan fi'il mudhari'. Kata mabni adalah kata yang harakat akhirnya tetap, mencakup fi'il madhi, fi'il amr, semua huruf, kata ganti (dhamir), isim isyarah, dan isim maushul. Dengan mengenali mana yang berubah dan mana yang tetap, Anda menyiapkan pijakan yang benar sebelum menentukan keadaan i'rab sebuah kata di dalam kalimat.

Para ulama membagi tampaknya tanda i'rab menjadi tiga jenis: i'rab lafzhi, yaitu tanda yang terucap pada huruf akhir; i'rab taqdiri, yaitu tanda yang diperkirakan karena tidak mungkin diucapkan; dan i'rab mahalli, yaitu kedudukan i'rab pada kata mabni. Ketiga jenis ini akan dibahas lebih dalam pada bagian tersendiri. Yang penting dipahami di awal, ketiadaan harakat yang tampak tidak berarti kata itu bebas dari i'rab, sebab kedudukan i'rab tetap melekat pada fungsinya.

Empat Keadaan I'rab: Rafa', Nashab, Jar, Jazm

Keadaan i'rab ada empat. Pertama rafa', keadaan yang tanda aslinya dhammah dan berlaku pada isim serta fi'il mudhari'. Kedua nashab, keadaan yang tanda aslinya fathah dan berlaku pada isim serta fi'il mudhari'. Ketiga jar, keadaan yang tanda aslinya kasrah dan khusus berlaku pada isim. Keempat jazm, keadaan yang tanda aslinya sukun dan khusus berlaku pada fi'il mudhari'.

Dari pembagian ini lahir pemetaan yang jelas. Isim mengalami tiga keadaan: rafa', nashab, dan jar, sedangkan isim terbebas dari jazm. Fi'il mudhari' mengalami tiga keadaan: rafa', nashab, dan jazm, sedangkan fi'il mudhari' terbebas dari jar. Dengan kata lain, jar adalah ciri khas isim, dan jazm adalah ciri khas fi'il mudhari'. Adapun rafa' dan nashab menjadi keadaan yang dimiliki bersama oleh keduanya.

Setiap keadaan memiliki tanda asli dan tanda pengganti. Tanda asli dipakai pada kata-kata umum, sedangkan tanda pengganti muncul pada kelompok kata tertentu seperti isim tatsniyah (ganda), jamak, asma'ul khamsah (lima isim khusus), dan fi'il-fi'il tertentu. Memahami pasangan tanda asli dan tanda pengganti inilah kunci menguasai i'rab secara menyeluruh, dan di sinilah seorang santri perlu kesabaran serta latihan bertahap.

إِنَّا أَنزَلْنَاهُ قُرْآنًا عَرَبِيًّا لَّعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ

Innaa anzalnaahu qur'aanan 'arabiyyan la'allakum ta'qiluun

Sesungguhnya Kami menurunkannya berupa Al-Quran berbahasa Arab, agar kamu memahaminya.
QS Yusuf: 2

Tanda I'rab Rafa' dan Penerapannya

Rafa' memiliki empat tanda. Tanda aslinya adalah dhammah, lalu ada tiga tanda pengganti: wawu, alif, dan nun. Dhammah menjadi tanda rafa' pada empat tempat: isim mufrad (tunggal) seperti jaa'a al-mu'allimu (guru itu datang), jamak taksir seperti jaa'a ar-rijaalu (para lelaki datang), jamak muannats salim seperti jaa'at al-muslimaatu (para muslimah datang), dan fi'il mudhari' yang akhirnya tidak bersambung dengan apa pun seperti yaktubu al-waladu (anak itu menulis).

Wawu menjadi tanda rafa' pada dua tempat: jamak mudzakkar salim seperti jaa'a al-muslimuuna (para muslim datang), dan asma'ul khamsah seperti jaa'a abuuka wa akhuuka (ayahmu dan saudaramu datang). Alif menjadi tanda rafa' pada isim tatsniyah, yaitu kata yang menunjukkan dua, seperti jaa'a az-zaidaani (dua Zaid datang) dan haadzaani kitaabaani (ini dua buku).

Nun menjadi tanda rafa' pada al-af'aal al-khamsah (lima bentuk fi'il), yaitu fi'il mudhari' yang bersambung dengan alif tatsniyah, wawu jamak, atau ya' muannatsah mukhathabah. Contohnya yaf'alaani, taf'alaani, yaf'aluuna, taf'aluuna, dan taf'aliina. Kelima bentuk ini dalam keadaan rafa' tetap mempertahankan nun di akhirnya. Dengan memetakan empat tempat dhammah, dua tempat wawu, satu tempat alif, dan satu tempat nun, gambaran rafa' menjadi utuh dan mudah dihafal.

Penting dipahami bahwa dhammah pada keadaan rafa' bisa berupa dhammah tampak (zhahirah) maupun dhammah diperkirakan (muqaddarah). Dhammah tampak muncul pada isim shahih akhir seperti al-mu'allimu, sedangkan dhammah diperkirakan muncul pada isim maqshur seperti jaa'a al-fataa (pemuda itu datang) dan isim manqush seperti jaa'a al-qaadhi (hakim itu datang). Begitu pula fi'il mudhari' mu'tal akhir seperti yad'uu, yarmii, dan yakhsyaa, semuanya dirafa'kan dengan dhammah yang diperkirakan karena huruf 'illah di akhir menghalangi harakat muncul secara lafaz. Memahami nuansa ini menjaga Anda dari menyangka kata-kata itu mabni.

Tanda I'rab Nashab dan Penerapannya

Nashab memiliki lima tanda. Tanda aslinya adalah fathah, lalu ada empat tanda pengganti: alif, kasrah, ya', dan membuang nun. Fathah menjadi tanda nashab pada tiga tempat: isim mufrad seperti ra'aitu al-mu'allima (saya melihat guru), jamak taksir seperti ra'aitu ar-rijaala (saya melihat para lelaki), dan fi'il mudhari' yang didahului amil nashib dan akhirnya tidak bersambung apa pun, seperti lan aktuba (saya tidak akan menulis).

Alif menjadi tanda nashab pada asma'ul khamsah, seperti ra'aitu abaaka wa akhaaka (saya melihat ayahmu dan saudaramu). Kasrah menjadi tanda nashab pada jamak muannats salim, seperti ra'aitu al-muslimaati (saya melihat para muslimah); di sinilah kasrah menggantikan fathah, sebuah kekhususan yang sering luput diingat pemula.

Ya' menjadi tanda nashab pada dua tempat: isim tatsniyah seperti ra'aitu az-zaidaini (saya melihat dua Zaid), dan jamak mudzakkar salim seperti ra'aitu al-muslimiina (saya melihat para muslim). Adapun membuang nun menjadi tanda nashab pada al-af'aal al-khamsah, sehingga yaf'aluuna berubah menjadi an yaf'aluu (agar mereka melakukan) tanpa nun. Perhatikan bahwa fi'il mudhari' mu'tal akhir seperti yad'uu dan yarmii dinashabkan dengan fathah yang diperkirakan, karena huruf 'illah menghalangi munculnya harakat secara lafaz.

Ada satu catatan halus yang membedakan fathah pada nashab. Pada fi'il mudhari' yang berakhir alif seperti yakhsyaa, fathah saat nashab tetap diperkirakan, sehingga an yakhsyaa tidak berubah bentuknya dari keadaan rafa'. Namun pada fi'il yang berakhir wawu atau ya' seperti yad'uu dan yarmii, fathah saat nashab justru tampak: an yad'uwa dan an yarmiya. Inilah sebabnya seorang santri perlu memerhatikan jenis huruf akhir sebelum menetapkan apakah tanda nashab itu tampak atau diperkirakan. Ketelitian semacam ini menandai pemahaman i'rab yang mendalam, dan menghindarkan dari kekeliruan menulis harakat.

Tanda I'rab Jar dan Penerapannya

Jar khusus berlaku pada isim dan memiliki tiga tanda. Tanda aslinya adalah kasrah, lalu ada dua tanda pengganti: ya' dan fathah. Kasrah menjadi tanda jar pada tiga tempat: isim mufrad yang munsharif seperti marartu bi al-baiti (saya melewati rumah itu), jamak taksir yang munsharif seperti marartu bi ar-rijaali (saya melewati para lelaki), dan jamak muannats salim seperti marartu bi al-muslimaati (saya melewati para muslimah).

Ya' menjadi tanda jar pada tiga tempat: asma'ul khamsah seperti marartu bi abiika (saya melewati ayahmu), isim tatsniyah seperti marartu bi az-zaidaini (saya melewati dua Zaid), dan jamak mudzakkar salim seperti marartu bi al-muslimiina (saya melewati para muslim). Inilah sebabnya bentuk jar dan nashab pada tatsniyah serta jamak mudzakkar salim sama-sama memakai ya'.

Fathah menjadi tanda jar pada isim ghairu munsharif, yaitu isim yang menolak tanwin dan menolak kasrah. Pada isim seperti ini, fathah menggantikan kasrah ketika ia dalam keadaan jar, seperti marartu bi ahmada (saya melewati Ahmad) dan shallaitu fii masaajida katsiiratin (saya shalat di banyak masjid). Catatannya, isim ghairu munsharif kembali memakai kasrah jika ia disertai alif lam atau menjadi mudhaf (disandarkan), seperti fii al-masaajidi.

Sebagaimana keadaan lain, kasrah pada jar bisa tampak maupun diperkirakan. Kasrah tampak pada isim shahih akhir seperti fii al-baiti, sedangkan kasrah diperkirakan pada isim maqshur seperti marartu bi al-fataa (saya melewati pemuda itu), isim manqush seperti marartu bi al-qaadhi (saya melewati hakim itu), dan isim yang disandarkan pada ya' mutakallim seperti fii kitaabii (di dalam kitabku). Dengan menggabungkan tiga huruf jar yang paling sering muncul dalam Al-Quran, yakni min, fii, dan ilaa, lalu melatih membaca akhir kata setelahnya, Anda akan terbiasa mengenali keadaan jar dengan cepat dan tepat.

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

Al-hamdu lillaahi rabbil-'aalamiin

Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.
QS Al-Fatihah: 2

Tanda I'rab Jazm dan Penerapannya

Jazm khusus berlaku pada fi'il mudhari' dan memiliki dua tanda. Tanda aslinya adalah sukun, lalu ada satu tanda pengganti: membuang. Sukun menjadi tanda jazm pada fi'il mudhari' shahih akhir, yaitu fi'il yang huruf akhirnya bukan huruf 'illah (alif, wawu, ya'). Contohnya lam yaktub (dia belum menulis) dan lam yadhrib (dia belum memukul), keadaan jazm di sini ditandai sukun pada huruf terakhir.

Membuang menjadi tanda jazm pada dua kelompok. Pertama, membuang huruf 'illah pada fi'il mudhari' mu'tal akhir, yaitu fi'il yang berakhir dengan alif, wawu, atau ya'. Contohnya yad'uu menjadi lam yad'u (dia tidak berdoa) dengan membuang wawu, yarmii menjadi lam yarmi (dia tidak melempar) dengan membuang ya', dan yakhsyaa menjadi lam yakhsya (dia tidak takut) dengan membuang alif.

Kedua, membuang nun pada al-af'aal al-khamsah ketika ia dijazmkan, sehingga yaf'aluuna menjadi lam yaf'aluu (mereka belum melakukan) tanpa nun. Perlu dicermati bahwa membuang nun adalah tanda yang dipakai pada al-af'aal al-khamsah dalam keadaan nashab maupun jazm, sehingga konteks amil yang menentukan keadaan sebenarnya. Amil jazm yang masuk pada satu fi'il antara lain lam dan lammaa; ada pula amil syarat yang menjazmkan dua fi'il sekaligus, seperti in dan man.

Susunan syarat memberi gambaran jazm yang menarik. Ketika Anda berkata in tadrus tanjah (jika kamu belajar, kamu akan lulus), kata in adalah adat syarat yang menjazmkan dua fi'il: tadrus sebagai fi'il syarat dan tanjah sebagai jawab syarat. Keduanya berakhir sukun sebagai tanda jazm. Pada fi'il mu'tal akhir dalam susunan syarat, tetap berlaku membuang huruf 'illah, seperti man yattaqi yaftah Allahu lahu, di mana yattaqi dijazmkan dengan membuang ya'. Memahami pola syarat ini melengkapi penguasaan jazm dan membantu membaca banyak ayat hukum dan janji dalam Al-Quran dengan tepat.

Amil yang Menyebabkan Setiap Keadaan I'rab

Setiap keadaan i'rab dipicu oleh amil, yaitu faktor yang masuk pada kata. Untuk rafa', isim menjadi marfu' karena kedudukannya sebagai fa'il (pelaku), naib fa'il (pengganti pelaku), mubtada' (subjek), khabar (predikat), dan beberapa kedudukan lain. Fi'il mudhari' menjadi marfu' selama tidak didahului amil nashib atau jazim, sebab rafa' adalah keadaan asal fi'il mudhari'.

Untuk nashab pada isim, amilnya antara lain karena kata itu menjadi maf'ul bih (objek), haal (keterangan keadaan), tamyiz (penjelas), dan isim inna serta saudara-saudaranya. Untuk nashab pada fi'il mudhari', amilnya adalah huruf nashib seperti an, lan, kay, idzan, dan lam ta'lil (lam alasan). Contohnya lan tanaaluu al-birra hattaa tunfiquu, di mana lan menashabkan fi'il setelahnya.

Untuk jar pada isim, amilnya ada tiga: huruf jar seperti min, ilaa, 'an, 'alaa, fii, dan ba'; idhafah (penyandaran); dan ikut pada isim yang majrur (tabi'). Untuk jazm pada fi'il mudhari', amilnya adalah huruf jazim seperti lam, lammaa, lam amr (lam perintah), dan laa nahiyah (laa larangan), serta adawat syarth seperti in, man, maa, dan mahmaa yang menjazmkan dua fi'il sekaligus, yaitu fi'il syarat dan jawab syarat.

Memahami amil membuat analisis i'rab terasa logis dan teratur. Saat membaca sebuah kalimat, langkah pertama yang baik adalah mengenali jenis kata (isim atau fi'il), lalu mencari amil yang masuk padanya, baru menetapkan keadaan dan tandanya. Sebagai contoh, pada kalimat al-mu'minuuna yunfiquuna amwaalahum (orang-orang beriman menginfakkan harta mereka), kata al-mu'minuuna adalah jamak mudzakkar salim yang marfu' dengan wawu karena menjadi mubtada', sedangkan yunfiquuna adalah salah satu al-af'aal al-khamsah yang marfu' dengan tetapnya nun karena tidak ada amil nashib atau jazim.

Inna dan saudara-saudaranya memiliki kekhususan yang penting diingat. Inna, anna, ka'anna, lakinna, laita, dan la'alla menashabkan isimnya dan merafa'kan khabarnya. Contohnya inna Allaha ghafuurun, di mana lafaz Allaha menjadi isim inna yang manshub dengan fathah, sedangkan ghafuurun menjadi khabar yang marfu' dengan dhammah. Sebaliknya kaana dan saudara-saudaranya merafa'kan isimnya dan menashabkan khabarnya. Mengenali kelompok amil seperti ini mempercepat Anda menentukan keadaan i'rab dengan benar.

لَن تَنَالُوا الْبِرَّ حَتَّىٰ تُنفِقُوا مِمَّا تُحِبُّونَ

Lan tanaalul-birra hattaa tunfiquu mimmaa tuhibbuun

Kamu tidak akan memperoleh kebajikan sampai kamu menginfakkan sebagian harta yang kamu cintai.
QS Ali 'Imran: 92

Tanda Asli dan Tanda Pengganti: Ringkasan Praktis

Untuk menghafal dengan rapi, mulailah dari tanda asli setiap keadaan: rafa' aslinya dhammah, nashab aslinya fathah, jar aslinya kasrah, dan jazm aslinya sukun. Empat tanda asli ini berlaku pada kata-kata yang umum, terutama isim mufrad, jamak taksir, dan fi'il mudhari' shahih akhir. Hafalkan urutan ini lebih dulu agar Anda punya kerangka yang kokoh.

Setelah itu, kuasai kelompok yang memakai tanda pengganti. Isim tatsniyah memakai alif untuk rafa' dan ya' untuk nashab serta jar. Jamak mudzakkar salim memakai wawu untuk rafa' dan ya' untuk nashab serta jar. Jamak muannats salim memakai dhammah untuk rafa' dan kasrah untuk nashab serta jar. Asma'ul khamsah memakai wawu untuk rafa', alif untuk nashab, dan ya' untuk jar.

Adapun pada fi'il, al-af'aal al-khamsah memakai tetapnya nun untuk rafa' dan membuang nun untuk nashab serta jazm. Fi'il mudhari' mu'tal akhir memakai dhammah dan fathah yang diperkirakan untuk rafa' dan nashab, lalu membuang huruf 'illah untuk jazm. Memetakan kelompok-kelompok ini ke dalam tabel pribadi sangat membantu santri menghafal tanda i'rab dengan melekat, dan inilah cara metode terstruktur menanam dasar nahwu secara bertahap.

Sebagai latihan ringkas, perhatikan satu kata muslim dalam berbagai bentuk dan keadaan. Ketika tunggal: jaa'a muslimun (rafa', dhammah), ra'aitu musliman (nashab, fathah), marartu bi muslimin (jar, kasrah). Ketika tatsniyah: muslimaani (rafa', alif), muslimaini (nashab dan jar, ya'). Ketika jamak mudzakkar salim: muslimuuna (rafa', wawu), muslimiina (nashab dan jar, ya'). Dengan mengulang pola seperti ini pada beberapa kata, otak Anda akan menyimpan tanda i'rab sebagai kebiasaan yang melekat. Latihan yang konsisten setiap hari, walau sedikit, jauh lebih melekat daripada belajar banyak sekaligus lalu berhenti.

I'rab Taqdiri dan I'rab Mahalli

Tidak semua i'rab tampak secara lafaz. Sebagian kata mengalami i'rab taqdiri, yaitu tanda i'rab yang diperkirakan karena tidak mungkin diucapkan. Hal ini terjadi pada isim maqshur yang berakhir alif seperti al-fataa, isim manqush yang berakhir ya' seperti al-qaadhi, dan isim yang disandarkan pada ya' mutakallim seperti kitaabii. Pada kata-kata ini, dhammah, fathah, atau kasrah diperkirakan keberadaannya tanpa terucap.

Selain itu ada i'rab mahalli, yaitu kedudukan i'rab pada kata yang sebenarnya mabni (tetap harakat akhirnya). Kata seperti isim isyarah haadzaa, isim maushul alladzii, dan dhamir hum tidak berubah harakat akhirnya, tetapi secara kedudukan ia menempati posisi marfu', manshub, atau majrur. Kita katakan kata itu mabni di tempat rafa', misalnya, untuk menunjukkan fungsinya dalam kalimat.

Memahami i'rab taqdiri dan mahalli melengkapi gambaran i'rab secara utuh. Dengan begitu, seorang santri tidak bingung ketika menemui kata yang harakat akhirnya tidak berubah, sebab ia paham bahwa kedudukan i'rab tetap ada walau tandanya tidak tampak pada huruf. Kemampuan membedakan ketiganya, yakni i'rab lafzhi, taqdiri, dan mahalli, menandai pemahaman nahwu yang matang.

Sebagai contoh i'rab mahalli, perhatikan kalimat haadzaa kitaabun (ini sebuah buku). Kata haadzaa adalah isim isyarah yang mabni, harakat akhirnya tetap, tetapi secara kedudukan ia menempati posisi rafa' sebagai mubtada'. Kita katakan haadzaa mabni di tempat rafa'. Begitu pula dhamir dalam ra'aituhu (saya melihatnya), huruf hu adalah dhamir mabni yang menempati posisi nashab sebagai maf'ul bih. Latihan menyebut kedudukan kata-kata mabni seperti ini melengkapi keterampilan i'rab Anda, sehingga setiap kata dalam kalimat dapat Anda tentukan fungsinya dengan tepat.

Kesalahan Umum dalam Memahami I'rab

Kesalahan pertama, menyangka jar bisa masuk pada fi'il dan jazm bisa masuk pada isim. Padahal jar adalah ciri khusus isim dan jazm adalah ciri khusus fi'il mudhari'. Menyamakan keduanya membuat analisis kalimat keliru sejak awal. Ingat selalu pemetaan: isim mengenal rafa', nashab, jar; fi'il mudhari' mengenal rafa', nashab, jazm.

Kesalahan kedua, mengira jamak muannats salim dinashabkan dengan fathah. Padahal jamak muannats salim dinashabkan dengan kasrah, sebuah kekhususan yang membedakannya dari isim umum. Begitu pula keliru menyangka tatsniyah dan jamak mudzakkar salim berbeda tanda saat nashab dan jar, padahal keduanya sama-sama memakai ya' pada kedua keadaan itu.

Kesalahan ketiga, lupa bahwa membuang nun pada al-af'aal al-khamsah dipakai untuk dua keadaan sekaligus, yaitu nashab dan jazm, sehingga harus dilihat amilnya. Kesalahan keempat, menempelkan kasrah pada isim ghairu munsharif saat jar, padahal ia dijar dengan fathah selama tidak ada alif lam atau idhafah. Kesalahan kelima, mengabaikan i'rab taqdiri pada isim maqshur dan manqush, lalu menyangka kata itu mabni. Menghindari lima kesalahan ini menjaga ketepatan analisis nahwu Anda dan mempercepat penguasaan i'rab.

Ada pula kekeliruan yang sering muncul saat membaca cepat, yaitu menetapkan keadaan i'rab sebuah kata tanpa lebih dulu mengenali amilnya. Kebiasaan yang sehat adalah berhenti sejenak pada tiap kata, bertanya jenis katanya dan amil yang masuk padanya, baru menentukan keadaan serta tandanya. Dengan langkah berurutan seperti ini, analisis i'rab Anda menjadi rapi dan dapat dipertanggungjawabkan, sekaligus melatih kepekaan terhadap struktur kalimat Al-Quran yang Anda baca setiap hari.

Glosarium Istilah I'rab

I'rab: perubahan akhir kata karena perbedaan amil. Bina': keadaan kata yang harakat akhirnya tetap. Rafa': keadaan i'rab dengan tanda asli dhammah. Nashab: keadaan i'rab dengan tanda asli fathah. Jar: keadaan i'rab khusus isim dengan tanda asli kasrah. Jazm: keadaan i'rab khusus fi'il mudhari' dengan tanda asli sukun.

Marfu': kata yang dalam keadaan rafa'. Manshub: kata yang dalam keadaan nashab. Majrur: kata yang dalam keadaan jar. Majzum: kata yang dalam keadaan jazm. Amil: faktor yang memengaruhi keadaan akhir kata. Isim mufrad: kata benda tunggal. Tatsniyah: kata yang menunjukkan dua. Jamak mudzakkar salim: jamak laki-laki beraturan. Jamak muannats salim: jamak perempuan beraturan. Jamak taksir: jamak yang berubah pola hurufnya.

Asma'ul khamsah: lima isim khusus (ab, akh, ham, fuu, dzuu) yang memakai huruf sebagai tanda i'rab saat menjadi mufrad dan mudhaf. Al-af'aal al-khamsah: lima bentuk fi'il mudhari' yang bersambung alif tatsniyah, wawu jamak, atau ya' mukhathabah. Munsharif: isim yang menerima tanwin. Ghairu munsharif: isim yang menolak tanwin dan dijar dengan fathah. I'rab taqdiri: tanda i'rab yang diperkirakan. I'rab mahalli: kedudukan i'rab pada kata mabni. Mu'tal akhir: fi'il yang berakhir huruf 'illah. Shahih akhir: fi'il yang huruf akhirnya bukan huruf 'illah.

FAQ

Pertanyaan yang Sering Diajukan

Apa pengertian i'rab secara sederhana?
I'rab adalah perubahan harakat atau huruf di akhir kata bahasa Arab karena perbedaan fungsi atau amil yang masuk padanya. Misalnya kata Zaid berakhir dhammah saat menjadi pelaku, fathah saat menjadi objek, dan kasrah setelah huruf jar. Perubahan inilah yang menjelaskan kedudukan kata dalam kalimat.
Apa saja empat keadaan i'rab dan tanda aslinya?
Empat keadaan i'rab yaitu rafa' dengan tanda asli dhammah, nashab dengan tanda asli fathah, jar dengan tanda asli kasrah, dan jazm dengan tanda asli sukun. Rafa' dan nashab berlaku pada isim dan fi'il mudhari', jar khusus isim, dan jazm khusus fi'il mudhari'.
Mengapa isim tidak mengenal jazm dan fi'il tidak mengenal jar?
Jar adalah ciri khas isim yang muncul karena huruf jar, idhafah, atau mengikuti isim majrur, sehingga fi'il terbebas darinya. Jazm adalah ciri khas fi'il mudhari' yang muncul karena huruf jazim atau adawat syarth, sehingga isim terbebas darinya. Pembagian ini menjadi kaidah dasar yang membedakan keduanya.
Bagaimana jamak muannats salim dinashabkan?
Jamak muannats salim dinashabkan dengan kasrah, dan kasrah inilah yang menggantikan fathah. Itulah kekhususannya. Contohnya ra'aitu al-muslimaati (saya melihat para muslimah), akhir kata berharakat kasrah meskipun ia dalam keadaan nashab sebagai objek. Adapun saat rafa' ia memakai dhammah dan saat jar memakai kasrah pula.
Apa itu i'rab taqdiri?
I'rab taqdiri adalah tanda i'rab yang diperkirakan keberadaannya karena tidak mungkin diucapkan pada huruf akhir. Hal ini terjadi pada isim maqshur yang berakhir alif seperti al-fataa, isim manqush yang berakhir ya' seperti al-qaadhi, dan isim yang disandarkan pada ya' mutakallim seperti kitaabii.
Apa tanda i'rab untuk al-af'aal al-khamsah?
Al-af'aal al-khamsah memakai tetapnya nun sebagai tanda rafa', dan membuang nun sebagai tanda nashab serta jazm. Karena membuang nun dipakai pada dua keadaan, yaitu nashab dan jazm, Anda perlu melihat amilnya untuk menentukan keadaan sebenarnya, apakah ia dinashabkan atau dijazmkan.
Bagaimana cara mudah belajar i'rab bagi pemula?
Mulailah dengan menghafal empat tanda asli: dhammah, fathah, kasrah, sukun. Setelah itu kuasai kelompok yang memakai tanda pengganti seperti tatsniyah, jamak, dan asma'ul khamsah. Latih dengan menganalisis ayat pendek setiap hari sambil membaca syarah matan Al-Ajurrumiyyah agar pemahaman melekat.

Sumber dan rujukan

  • Matan Al-Ajurrumiyyah — Ibnu Ajurrum ash-Shanhaji
  • Syarh Ibnu 'Aqil 'ala Alfiyyah Ibni Malik — Baha'uddin Abdullah Ibnu 'Aqil
  • Jami' ad-Durus al-'Arabiyyah — Syaikh Mushthafa al-Ghalayaini
  • An-Nahwu al-Wadhih — Ali al-Jarim dan Mushthafa Amin
Mulai Hari Ini

Siap Mulai Belajar Bersama Arabi?

Pengajar ahli siap mendampingi Anda, satu per satu, online maupun tatap muka. Konsultasi gratis, tanpa syarat.

Daftar